Tiga Wartawan Di Intimidasi Preman Proyek

Truk pengangkut tanah dari hasil pengerukan di lokasi pabrik PT. TBM Cimanggung Sumedang saat berpapasan dengan truk lainya di JL. Raya Parakanmuncang-Cimanggung

 Kab. Sumedang, Buser Trans Online,.

Berawal Kasat Reskrim Polres Sumedang AKP Tri Suhartanto melakukan kunjungan ke pabrik pemintalan PT. Tiga Bintang Mas (TBM), yang berlokasi di Desa Cikahuripan Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang Jawa Barat, Selasa (10/06), sebagai tamu sempat mununggu di ruang tamu pabrik sebab pimpinan perusahaan yang akan ditemuinya sedang menerima tamu lain, karena menunggu lama akhirnya batal bertemu dengan pimpinan perusahaan.

“Saya datang kesini bukan mau dilayani, tapi ini hanya kunjungan biasa saja, polisi kan mitra masyarakat, sebagai polisi kami akan melayani bukan dilayani dan kami datang kesini hanya sekedar ingin tahu wilayah saja”jelasnya saat di tanya wartawan.

Selanjutnya Kasat Reskrim di lokasi yang sama dalam pengakuanya secara kebetulan melihat ada pengerjaan proyek yang tanahnya sedang diratakan “saya juga pengin melihat apa yang sedang dikerjakan, sekalian kalau wartawan mau lihat sama-sama saja kesana”ajaknya.

Selanjutnya awak media langsung menuju lokasi berbarengan dengan mobil yang ditumpangi Kasat Reskrim, saat bereda dilokasi orang yang mengaku pimpinan proyek langsung bertemu dengan rombongan Kasat dan wartawan, terlihat pimpinan proyek yang sebelumnya mengenalkan dirinya bernama Dadang menjelaskan status proyeknya yang menurutnya sudah kantongi ijin dari pihak terkait “kami sudah lengkap perijinanya dan sebenarnya ini kan hanya cat and fiel saja, tanah pengerukan hanya dibuang disekitar proyek untuk meratakan dan tidak dijual keluar”jelasnya.

Diakui dia, bahwa pihak dari Kabupaten Sumedang sudah mengontrol langsung ke lokasi sehingga menurutnya bahwa proyeknya tidak ada masalah terkait perijinan.

Sepulang dari proyek wartawan hampir beriringan dengan mobil Kasat Reskrim, tiba-tiba berpapasan dengan beberapa truk yang keluar dan musuk di Jl. Raya Cimanggung-Sumedang diantaranya sedang mengangkut tanah yang di duga dari proyek yang ada di lokasi pabrik TBM.

Dalam kesempatanya wartawan langsung mengeluarkan kamera untuk mengambil gambar truk yang keluar dari lokasi proyek yang mengangkut tanah untuk dibawa menuju arah Parakanmuncang dan selanjutnya di bawa kearah Bandung.

Padahal sebelumnya pimpinan proyek mengatakan bahwa tanah tersebut tidak pernah dibawa keluar, namun kuat dugaan tanah tersebut secara komersil diperjualbelikan.

Saat wartawan sedang mengabil gambar keluar masuk truk, ada sekitar 8 orang yang tidak dikenal turun dari truk proyek mengaku sebagai penanggung jawab truk meminta kepada salah satu wartawan yang memotret untuk menghapus gambar yang pernah diambilnya walaupun pengambilan gambar tersebut jelas berada diluar jauh dari lokasi pabrik, segerombolan kawanan preman tersebut berkumpul persis di depan rumah pribadi Kepala Desa Cikahuripan.

Keadaan sempat memanas karena salah seorang wartawan online tidak mau menghapus gambar di kameranya, beberapa orang yang mengaku asli orang dari daerah tersebut sempat memaksa dan mengintimidasi seorang wartawan agar mengelurkan kamera yang sudah disimpan di tasnya untuk segera menghapus gambar yang pernah diambilnya sambil menunjuk-nujuk dan terus merangsek mendekati wartawan.

“Saya nu boga wilayah maneh saha..? Naon make motoan mobil truk, kudu menta ijin heula ka saya…….., kadieuken kamerana buru hapus”ujar salah seorang diantara mereka dan beberapa temanya sambil mengerubuti tiga wartawan.

Sontak saja keributan tersebut menjadi perhatian warga disekitar dan mereka yang melihat tidak berini mendekat, bahkan tidak seorangpun diantara mereka yang berani melerai. Karena situasi tidak memungkinkan akhirnya ketiga wartawan langsung pergi meninggalkan para preman tersebut.

Salah seorang wartawan harian Pokja Sumedang Barat bernama Husni mengatakan kejadian tersebut merupakan salah satu bentuk intimidasi kepada wartawan yang sedang bertugas serta tidak adanya ketegasan aparat terkait tentang status proyek sehingga para preman yang justru menguasai proyek tersebut, “jika memang status poyek tersebut jelas kenapa mesti ada preman, sehingga tempat umumpun tetap di jaga preman dan melarang wartawan mengambil gambar”ungkapnya dengan nada kesal. (Kos/Buser Trans Online)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s