Ritual Suro, Songgo Buwono Ruwat Puluhan Orang

Posted on Updated on

BANTUL –Buser Trans Online

Dengan iringan gending-gending laras pelog mayuro, Kamis sore pekan lalu, puluhan orang tampak duduk berjejer hikmat. Tak bergeming meski busana yang membalut tubuh mereka basah tersiram air kembang setaman. “Adem ayem pokoknya,” ucap salah seorang peserta siraman usai menjalani ritual siraman.

Itulah secuil gambaran pelaksanaa ritual siraman sukerto yang diselenggarakan Sanggar Supranatural Songgo Buwono Yogyakarta, Kamis pagi hingga malam Jumat lalu. Sekitar 36 orang yang mempunyai sukerta dan datang dari berbagai daerah, diruwat oleh pimpinan sanggar Bunda Lia.

Sedangkan sebagai dalang pengruwat yakni, Ki Timbul Hadi Prayitno yang merupakan dalang kondang dari DIY. Selanjutnya, sekitar pukul 14.00 wib, dilanjutkan dengan acara siraman untuk seluruh peserta yang dilakukan oleh sesepuh Songgo Buwono Bunda Lia, dan Dai kondang DR.KH.Nuril Arifin Husen,MBA atau yang lebih dikenal dengan nama, Gus Nuril dari Semarang, Jawa Tengah.

Setelah acara siraman kembang setaman usai, sekitar pukul 16.00 wib, prosesi ritual dilanjutkan dengan larungan rambut peserta ke pantai selatan, Parangkusumo, yang dikenal sangat sakral dan keramat..

Malam harinya, setelah dihibur oleh “TAMAN HATI” dari Semarang, dilanjutkan dengan siraman rokhani oleh Gus Nuril. Sedangkan sebagai acara puncak, yakni pentas wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Timbul Hadi Prayitno.


Mengapa orang yang memiliki sukerta harus diruwat? Menurut penuturan bunda Lia, tradisi pada masyarakat jawa seperti itu sudah ada sejak jaman dulu. Sedangkan asal muasalnya, berawal dari cerita wayang purwa yang lebih dikenal dengan lakon, Murwokolo.

Dikisahkan, pada suatu sore, Bathara Guru yang merupakan dewanya para dewa, berjalan jalan disekitar istana kahyangan bersama istrinya, Dewi Uma, dengan mengendarai Lembu Andini.
Walau wujudnya seekor lembu, namun binatang ini merupakan kendaraan resmi Bathara Guru.

Nah, pada saat sedang melihat indahnya cakrawala kahyangan inilah, tiba tiba birahi Bathara Guru memuncak. Dan diatas lembu Andini, rajanya para dewa ini melakukan senggama dengan Dewi Uma. Karena tempatnya tidak memungkinkan, ketika klimax, sperma Bathara Guru jatuh ke bumi.

Sperma Bathara Guru yang jatuh ke bumi inilah, yang kemudian berubah ujud menjadi bayi raksasa yang lebih dikenal dengan nama, Bathara Kala dengan tanda rajah Kalacakra didadanya. Selanjutnya, Bathara Kala kesana kemari mencari orang tuanya.

Namun karena tak juga ketemu, akhirnya sosok raksasa ini memangsa setiap manusia yang dijumpainya. Terutama manusia yang mempunyai sukerta (ciri ciri kelahiran khusus). Hanya manusia yang bisa membaca rajjah Kalacakra, yang luput dari mangsa Bathara Kala.

“Karena itulah, mengapa orang yang mempunyai sukerta harus diruwat agar terhindar dari musibah. Misalnya, anak tunggal, anak tiga perempuan satu dengan posisi di tengah atau yang lazim disebut sendang kapit pancuran dan lain lain “, terang Bunda Lia. cholis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s