Solusi Merapi, UGM Ajukan 15 Rekomendasi

Posted on Updated on

SLEMAN – Buser Trans Online

Universitas Gadjah Mada (UGM) merekomendasikan 15 penelitian tentang erupsi Gunung Merapi pada sejumlah lembaga pemerintah. Penelitian digunakan sebagai pengetahuan untuk menangani bencana erupsi.

Ketua Bidang I Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Harno Dwi Pranowo menjelaskan, 15 rekomendasi merupakan hasil penelitian sejumlah pakar UGM yang mengkaji Merapi pascaletusan.

Beberapa penelitian meliputi tata ruang wilayah berbasis analisis resiko gunung api pascaerupsi, sebaran awan panas Merapi, strategi pembangkitan ekonomi masyarakat, kerusakan infrastruktur, strategi penanganan ternak saat tanggap darurat, zona bahaya Merapi melalui pendekatan geomorfologi tanah, daya dukung lahan untuk kegiatan agro dan perikanan.

“Kami akan merekomendasikan penelitian pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemkab Sleman agar menjadi bahan pertimbangan untuk model penanganan bencana secara lebih baik,” ujarnya di Jogja, Rabu (22/12).

Penelitian pakar didiskusikan bersama lembaga pemerintah melalui Lokakarya Tanggap Bencana Merapi di Grand Palace Hotel Yogyakarta pada 21-22 Desember. Penelitian melibatkan pakar dari Fakultas Geografi, Teknik, Ekonomi, Peternakan, MIPA, Pertanian, Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH), Pusat Studi Bencana Alam (PSBA), Psikologi dan Ilmu Budaya. Sebanyak 15 proposal penelitian telah diseleksi dari 21 proposal yang masuk.

Sementara itu, salah satu peneliti permodelan erupsi Merapi, Kirbani Sri Broto Puspito dari Geofisika FMIPA UGM menyebutkan, letusan Merapi bisa dikaji dari pola luncuran awan panas. Keteraturan pola letusan Merapi digunakan sebagai dasar untuk menentukan status atau level kondisi letusan Merapi dari siaga, waspada hingga awas. “Pola letusan Merapi sejak 300 SM hingga saat ini selalu teratur. Hal itu bisa digunakan sebagai dasar atau analisa untuk penanganan bencana,” papar dia.

Kirbani mengkaji Merapi berdasarkan periode letusan Merapi sejak 300 SM dengan periode 150 hingga 500 tahunan hingga letusan 2010. Melalui periodisasi letusan, pemerintah maupun masyarakat bisa mengamati perilaku Merapi untuk penanganan bencana. “Dari sejarah letusan, masyarakat bisa belajar kapan letusan besar akan terjadi. Sesuai pola dan sejarah, letusan besar bisa diprediksi akan terjadi 100 tahun lagi,” imbuh dia. cholis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s