Kasus Peluru Nyasar Diadukan Ke Kompolnas

Posted on

YOGYA, Buser Trans Online

Meski orangtua korban peluru nyasar belum mengaukan kasus anaknya ke polisi, aktifis Jogja Police Watch (JPW) akan melaporkan kasus salah tembak yang dilakukan seorang anggota Polres Sleman terhadap mahasiswa UPN, Widiharto,22,, kepada Komisi Polisi Nasional [Kompolnas]. Rencananya, data yang dihimpun JPW seputar kronologis penembakan mahasiswa yang diduga pelaku curanmor itu, akan dikirimkan ke Kompolnas pada Senin [27/12].

Pernyataan itu disampaikan humas JPW Baharuddin usai membesuk korban di ruang Intermediate Care [IMC] RSUP Dr. Sardjito, Jumat [24/12] siang. “Kami juga akan mendesak Kompolnas agar turun ke Jogja untuk menyelidiki kasus ini,” tegasnya.

Baharuddin menambahkan, salah satu anggota Kompolnas yang telah dihubungi JPW lewat telepon mengatakan, polisi hanya berhak mengeluarkan tembakan terhadap orang yang sudah menjadi target operasi, residivis kambuhan, teroris, dan orang yang mengancam keselamatan polisi itu sendiri. “Hasil analisis JPW, tidak satu pun kategori tersebut cocok dengan korban. Kedua orangtua korban juga memastikan anaknya belum pernah berurusan dengan polisi. STNK motor pun atas nama Widiharto,” ujar Baharuddin.

Kapolda DIY Brigjen Pol Ondang Sutarsa sendiri memang mengakui kasus anggota salah tembak itu sudah ditangani. “Jika dari hasil penyidikan internal anggota tersebut terbukti mengeluarkan tembakan tidak sesuai prosedur, jelas akan dikenai sanksi tegas,” kata Kapolda.

Menurut Kapolda, kasus salah tembak yang menimpa korban di wilayah Pringgolayan, Condongcatur, Depok pada Rabu [22/12] dini hari itu hanya karena salah paham. Tingginya kasus curanmor di wilayah hukum Polres Sleman, imbuh Kapolda, mengharuskan setiap anggota meningkatkan kewaspadaan, baik saat menggelar razia atau ketika sedang berpatroli. “Seandainya korban tidak melarikan diri saat ditegur polisi, pasti tidak akan terjadi seperti ini [salah tembak],” jelas Kapolda.

Menanggapi pernyataan Kapolda, Baharuddin mendesak agar pengungkapan kasus ini dilakukan secara transparan. “Sanksi tegas jangan hanya sekadar pemecatan atau hanya dimutasi. Anggota yang terbukti bersalah itu harus diadili dalam persidangan umum. Jangan sampai kasus ini hanya diselesaikan secara kekeluargaan,” tandasnya. Cholis Buser Trans Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s