Akuisisi Bantul Radio Banyak Keganjilan

Posted on

BANTUL – Buser  Trans Online

Tak seperti lazimnya tansaksi jual beli, nilai akuisisi PT Radio Sangga Buana Citra menjadi Bantul Radio disorot beragam kalangan. Betapa tidak, nilai akuisisi sebesar Rp 1,7 miliar disepakati tanpa melibatkan tim independen. Pembentukan Bantul Radio juga dipertanyakan karena tidak menguntungkan.

Wajar kalau BPK dalam laporannya meminta bupati memerintahkan Direktur Perusahaan Daerah Aneka Dharma, selaku pengelola, segera menunjuk tim independen sebagai bentuk pertanggungjawaban. Keteledoran pihak pengelola merugikan negara. “Seharusnya pihak pengelola tahu prosedur. Ketiadaan tim independen membuat proses akuisisi rawan kongkalikong. Kami melaporkan kasus itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi karena ada unsur kerugian negara,” kata Koordinator Bantul Corruption Watch, Romadhon.

Menanggapi itu, Direktur PD Aneka Dharma Faid Hilmi mengatakan, dari anggaran Rp 1,7 miliar hanya sekitar Rp 1 miliar yang dipakai untuk akuisisi. Dalam proses itu, Pemkab Bantul tidak mendapat aset apa pun kecuali menara pemancar dan antena yang tak bisa dipakai lagi.

Akuisisi terpaksa dilakukan karena Pemkab Bantul kesulitan mengajukan izin kanal baru bagi radio. “Tahun 2008 kami tidak mendapat izin kanal. Padahal, kami sangat ingin mendirikan radio. Kami putuskan membeli kanal radio yang sudah eksis,” katanya. Akuisisi Rp 1 miliar adalah kesepakatan antara PD Aneka Dharma dan Sangga Buana. Sisa anggaran digunakan membeli peralatan pendukung.

Bantul Radio beroperasi 20 Juli 2008. Data PD Aneka Dharma, sepanjang 2008, Bantul Radio merugi Rp 20 juta. Tahun 2009, keuntungan yang diraih Rp 1,6 juta. Pihak PD Aneka Dharma menilai, masih minimnya kontribusi karena Bantul Radio belum lama beroperasi.

Amir Syarifudin dari Komisi B DPRD II Bantul mengatakan, kontribusi Bantul Radio bagi pendapatan daerah belum signifikan. Padahal, pemerintah mengeluarkan anggaran besar. “Bantul Radio unit usaha yang dibentuk untuk menaikkan pendapatan, tapi kontribusinya masih sangat kecil,” katanya.

Menurutnya, total pendapatan Bantul Radio pada tahun 2009 adalah Rp 334 juta. Dari jumlah tersebut Rp 259 juta diantaranya diperoleh dari acara talk show dinas-dinas, dimana sekali talk show bertarif Rp 400 ribu.

“Selain itu tidak sesuai dengan pemendagri no 13 tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah, fakta tersebut juga menunjukkan manajemen Bantul Radio dalam hal ini PD Aneka Dharma tidak punya visi yang jelas untuk mengelola radio,” imbuh Amir yang juga anggota Badan Anggaran DPRD ini.

Ironi lainnya, ternyata Bantul Radio juga tidak memiliki izin penyelenggaraan penyiaran (IPP) dan izin stasiun radio (ISR). Banyak permasalahan dalam pengelolaan Bantul Radio. Jadi langkah yang terbaik adalah menutup operasi Bantul Radio,” kata Amir. Cholis Buser Trans Online

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s