Oknum Kadus Diduga Kuat Ngemplang Dana Dakons

Posted on

BANTUL, Buser Trans Online

Penyaluran dana rekonstruksi perumahan dan non perumahan akibat bencana gempa bumi 27 Mei 2006 silam di Bantul, tampaknya masih banyak menyisakan cerita kelam. Seperti di Dusun Ngemplak Srigading Sanden Bantul, misalnya, dana bantuan yang semestinya sampai ke tangan yang berhak malah nyasar ke kantong pribadi oknum Kadus setempat, Sgt.

Lucunya lagi, sebagian dari hasil aksi culasnya ia gelontorkan ke sekolah dasar (SD) dalam bentuk 8 unit komputer menyusul adanya tekanan warga yang mulai mencium beragam kejanggalan realisasi dana dakons di kampungnya.

Kisah buram ini sendiri berawal dari keluhan korban gempa berkategori ringan dan sedang akibat dana bantuan yang diterima jauh dari ketentuan yang seharusnya. Padahal sesuai ketentuan, Ganti rugi rusak berat mendapat bantuan RP.15 juta rupiah ,rusak sedang RP4 juta rupiah, dan rusak ringan Rp,1 juta rupiah.

Dengan dalih kearifan lokal, dana bantuan yang diterima korban menjadi mungkret akibat aksi penyunatan yang dilakukan oleh oknum aparat pemerintahan desa setempat, yakni kadus Sgt. Tak pelak, sejumlah 70 KK penerima dana dakons di dusun Ngemplak meradang akibat aksi penyunatan yang berkisar antara Rp 100 rb hingga Rp 450 rb tersebut. “Yang demikian itu bukan tanpa dasar, tapi karena memang sudah kesepakatan dengan beberapa tokoh masyarakat dan pokmas,” kilah oknum kadus Sgt saat ditemui di kediamannya kemarin.

Durjana boleh saja menampikkenyataan dengan beragam dalih. Terbukti, hasil penelusuran BUSER TRANS di lapangan menunjukkan fakta berkata lain. Ibu Endang (57), misalnya. Korban gempa berkategori rusak sedang yang semestinya mendapat bantuan sebesar Rp 4 juta, terpaksa harus gigit jari karena dipotong RP450.000,-

Ada juga karena anggota pokmas seperti Rusmawan walau tidak punya rumah malah dapat kelompok sedang RP 4 juta padahal masih serumah dengan mertuanya, Siswodiyarjo. Ratno juga anggota pokmas dapat 2 kelompok sedang yang satu atas nam ibunya bu Mangku padahal mereka masih serumah.

Begitu juga Pak Sukijo dapat 2 kelompok sedang masing – masing Rp.4 juta padahal juga tidak rusak. “Malah ada warga yang masih indung/numpang sama orang tua tidak didata. Seperti Eko iswandani putranya pak siswanto dan Suyoto ketua RT 56 juga tidak dapat bantuan, tapi pak RT 57 dapat bantuan sedang tapi dibagi dua sama ibunya karena masih indung  ibunya,” papar warga RT 57 yang enggan disebut jati dirinya.

Seperti api dalam sekam, kekesalan warga terhadap ulah jahil sang oknum kadus SGt seakan sudah sampai di ubun-ubun. Apalagi setelah mengetahui bantuan sosial berupa 8 uni komputer ke SD Manding Mas itu membawa-bawa nama dusun Ngemplak. Pasalnya, selain tanpa melalui musyawarah, bantuan tersebut ternyata fiktif alias bodong. “Ah, itu kan hanya mengada-ada saja, “tutur Siswanto dengan nada tinggi bersama warga yang lain.

Saat BUSER TRANS menyambangi SD Manding Mas, pihak sekolah menampik telah menerima bantuan berupa 8 unit komputer. “Mereka memang pernah datang ke sini denga maksud memberikan bantuan 8 unit komputer, 4 komputer layar datar dan lainnya layar biasa atau cembung.

Tapi ya itu tadi, sampai sekarang barangnya juga belum ada tuh,” ujar salah seorang guru yang meminta agar tak disebutkan namanya. “Iya, tanggal 25 Januari kemarin itu kami diminta menandatangani berita acara penyerahan barang itu,” imbuhnya dengan wajah bengong.

Kepala Sekolah SD Manding Mas Eny menampik dengan keras bahwa dirinya selaku Kepala Sekolah tak pernah tahu menahu perihal bantuan komputer dari warga dusun Ngemplak. Eni justru tahu setelah ada surat pemberitahuan dan kopian surat berita acara penerimaan bantuan tersebut dari atasannya di Kantor Cabang Dinas Pendidikan. “Tahu kalau itu sumber dananya dari dana rekonstruksi, jelas kami tolak,” tandas Kepala Sekolah SD Manding Mas Eny.

Yang pasti, dokumen berita acara serah terima barang No 001/Wrg.Md.I/2010 tertanggal 25 Februari 2010 memaparkan perihal bantuan berupa 8 unit komputer yang peruntukannya untuk menunjang proses belajar mengajar di SD Manding Mas. Selain tertandatangani atas nama Sugito dan Suratno selaku warga juga ditandatangi dua staf pengajar, yakni Sudiyo dan Sudarsih. “Kalau mau membantu kenapa baru sekarang sudah 3 tahun baru di berikan itu kan perlu dipertanyakan,” tandas Eni. Cholis Buser Trans Online.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s