SMS SAMPAH SEMANGKIN MERUYAK

Posted on

YOGYA – Buser Trans Online

Di tengah seru kompetisi antar operator seluler, kini ternyata konsumen harus bergelut sendiri dengan serangkaian serangan SMS yang kian hari kian meruyak saja. Sebuah competitor baru di saat para operator jaringan seluler terlibat berlomba-lomba memberikan kemudahan kepada konsumen.

Berbagai iming-iming yang diberikan itu di antaranya menurunkan tarif bahkan menggratiskan layanan yang pada awal kemunculan teknologi ini hanya bisa dinikmati orang berduit. Tengok saja biaya percakapan telepon yang biayanya semakin murah, sambungan internet yang bisa dilakukan dengan pulsa mepet, bahkan gratis berkirim 10.000 short message service (SMS).

Kemudahan dan layanan murah ini ternyata harus diwaspadai.Banyak yang ndompleng cari duit dengan menawarkan sesuatu yang menjebak, bahkan menipu pengguna ponsel.Terang saja hal ini sangat menjengkelkan serta mengganggu kenyamanan berkomunikasi.

Seperti yang dialami Widyo,35, seorang staf bagian teknologi informasi (IT) pada salah satu perusahaan swasta di Yogyakarta. Dia menceritakan beberapa waktu lalu sempat deg-degan menunggu kabar salah satu sanak keluarganya yang sakit. Eh, tiba-tiba ponselnya bergetar.

Alih-lih SMS itu berisai kabar yang dia tunggu, ternyata pesan pendek yang masuk itu adalah tawaran pinjaman kredit yang mengaku berbunga rendah dari salah satu lembaga keuangan. Merasa tidak berminat, dia mendiamkan penawaran itu.Rupanya pengirim tak patah semangat, SMS serupa terus dikirimkan padanya.” Pernah ada lebih dari sepuluh SMS masuk ke telepon saya.Sudah sangat mengganggu,”ujarnya.

Tidak saja dalam bentuk penawaran pinjaman.SMS yang kemudian disebut dengan spam atau sampah (pesan yang tidak diperlukan) muncul dalam beragam bentuk. Penuturan Yunita, 30, pekerja salah satu bank swasta sering sekali mendapat SMS promosi tarif, wallpapper gratis dan layanan lain.

Pernah ibu satu orang anak ini iseng mendaftarkan diri pada sebuah layanan ramalan bintang, tapi kemudian informasi yang diterimanya dirasa tidak cocok dengan rasi bintang Sagitarius miliknya. Kemudian banyak juga SMS yang berisi informasi yang dirasanya tidak penting berupa informasi layanan promosi dari produk operator seluler.”Gara-gara ikut ramalan bintang, pulsa saya sering habis tanpa saya gunakan,”keluhnya.

Keduaoranginiserentakmenjawab tidak saat ditanya apakah SMS tersebut bermanfaat bagi mereka. Mereka juga heran,dari mana pada pengirim SMS spamini mengetahui identitas bahkan alamat mereka. ”Kita kok jadi seperti kotak sampah,SMS apapun bahkan yang tidak berguna seperti itu bisa bebas masuk ke handphonekita,”ujar Widyo.

Sementara itu, Iqbal seorang pelanggan operator CDMA merasa dicurangi dengan iming-iming gratis. ”Bulan lalu saya dapat tawaran ring back tone (RBT) gratis.Tanpa sepengetahuan saya, ternyata ada tiga RBT.Tapi di bulan ini ketika ditawarkan ingin dilanjut atau tidak, ternyata dijawab tidak lanjut tidak bisa diproses hingga berkalikali,” sesalnya kemarin.

Dianggap tidak akan merugikan, lanjut dia,akhirnya proses mengakhiri berlangganan (unreg) tidak dilanjutan. Namun, dua hari kemudian pulsanya terpotong lumayan besar. ”Hampir Rp30.000 pulsa saya terpotong.Kalau tiap bulan seperti ini, sia-sia pulsanya. Kesimpulannya, hati-hati dengan tawaran gratis dari operator telekomunikasi,” tandasnya.

Ketua Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY) Widiantoro menyebut SMS broadcast menjadi mengganggu ketika konsumen yang menerima pesan pendek ternyata tidak membutuhkan informasi tersebut. Silang sengkarut masalah ini sebenarnya bermula dari awal para konsumen berlangganan pada operator tertentu. Sejak saat itu tidak ada kejelasan dan perjanjian kedua belah pihak soal informasi apa saja yang diperoleh jika menjadi pelanggan operator.

Konsumen tidak bisa memilih informasi apa saja yang boleh atau tidak dikirim pada perangkat telepon gengamnya. ”Dalam konteks perlindungan konsumen,hal tersebut bisa dikatakan melanggar hak,”ujarnya. Disisi lain operator sudah bekerjasama dengan banyak penyedia jasa yang lain.Pada poin inilah kemudian operator kadang menyamaratakan semua konsumen membutuhkan informasi yang disediakan.”

Sekarang ini konsumen tidak bisa memilih, sehingga diberikan apapun tidak bisa menolak,” ujarnya. Masyarakat menurut Widi yang juga pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY),harus melakukan beberapa hal untuk menghadapi situasi seperti ini.

Pertama, proteksi diri sendiri dengan cara langsung menghapus pesan-pesan singkat yang dinilai tidak berguna.Kemudian, ada langkah kebijakan pemerintah dan lembaga- lembaga yang mengawasi dunia teknologi informasi mengotrol produk-produk layanan jasa operator telepon genggam.Yaitu, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI),Komisi Penyiaran,Komisi Informasi memainkan peran dalam kontrol dan pengawasan dalam dunia telekomunikasi.

”Hal ini kan menunjukan dominasi kekuatan dalam hal teknologi dan pengetahuan untuk memanfaatkan kelemahan di tingkat konsumen. Sehingga,yang terjadi adalah eksploitasi, dalam istilahnya itu penyalahgunaan wewenang,” ujarnya. Pengamat teknologi informasi Roy Suryo menyatakan, dalam dunia jaringan ada etika yang disebut netiket.

Salah satunya mengatakan bahwa pengguna jaringan tidak diperkenankan untuk mengirimkan pesan yang sama, berulang-ulang apalagi pada orang tidak dikenal. Terlebih apabila nomor dan indentitas para penerima didapatkan dengan cara-cara yang tidak benar. ”Cara yang tidak benar itu artinya, kita kan kemarin mendengar ada basis data operator yang bocor,” ujarnya.

Kiriman SMS ini,menurut Roy sudah pada taraf mengganggu masyarakat pengguna jasa operator telepon seluler. SMS tersebut bisa masuk pada telepon seluler pengguna tengah malam, dini hari dan saat-saat penting. Sehingga, sangat mengusik kenyamanan untuk sekedar membaca SMS tersebut.Menurut Roy Suryo, saat ini sudah ada kebutuhan untuk mengeluarkan regulasi untuk melindungi konsumen.

Perlindungan sebenarnya bisa dilakukan oleh para penyedia jasa operator telepon seluler dengan mencekal nomor-nomor yang bisa digolongkan sebagai spamer (penyebar SMS sampah) sehingga tidak bisa dipakai lagi.Lembaga perlindungan konsumen dan BRTI juga harusaktifmelaporkanhal-halyang dinilai merugikan masyarakat.

”Cara efektif dilakukan.Kalau ada lebih dari lima orang yang mengadukan satu nomer,YLKI atau BRTI bisa menggunakan pasal perbuatan tidak menyenangkan,pasal 182 KUHP,”jelasnya. Cholis Buser Trans Online

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s