Nuasa Kekerasan Di IPDN Masih Ada

Posted on

 

Mayjen (Pur) TNI. TB Hasanudin

Kab. Sumedang, Buser Trans Online,.

Pola pendidikan di IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) harus dikembalikan menjadi gaya sipil, karena sampai saat ini militerisme masih sangat kental.
Dengan panjang lebar Wakil Ketua Komisi I Bidang Pertahanan DPR RI, dari Fraksi PDIP, Mayjen Pur. TNI TB Hasanudin menjelaskan, meski IPDN mengaku telah melakukan perubahan sistem pendidikan, namun bukan berarti telah bersih dari gaya lama (militerisme, red).
Dikatakan dia, memang benar dilakukan perubahan, tapi gaya lama tetap dipakai meski dengan terselubung. Senior pukul junior tidak dilakukan di tempat terbuka.
“Saya melihat di IPDN nuansa kekerasan masih terasa, padahal tidak relevan dengan sistem pendidikan. Di Akademi Militer atau Akpol gaya militer sudah dibuang, untuk menerapkan disiplin bukan lagi dengan ditendang atau dipukul,” tandas Hasanudin.
Mantan ajudan Presiden BJ Habibie di eranya tersebut menuturkan, cara-cara menerapkan disiplin terhadap siswanya dengan gebugan atau tendangan, masih terjadi di Akabri hingga tahun 1980-an, dan setelah itu kemudian ditinggalkan apalagi terjadi pemisahan Akpol dan Akmil.
“Cara menerapkan disiplin di Akmil misalnya sudah bergeser, jika siswa melakukan pesalahan atau pelanggaran ditegur dan dicatat. Jika sudah terlalu banyak pelanggaran dan tidak ada perubahan, maka tindakan terakhir adalah pemecatan,” jelas dia.
Pola yang diterapkan tersebut, lanjut dia, tidak kalah dengan gaya lama militer. Siswa akan takut jika terus ditegur dan dicatat yang ujung-ujungnya bisa dipecat, untuk itu mereka akan meningkatkan disiplinya. Pola tersebut pun kata Hasanudin, diterapkan di lembaga pendidikan militer Amerika atau Eropa.

Bubarkan Pengasuhan
Dengan digunakannya sistem pengasuhan di IPDN, menurut Hasanudin, tidak akan menjadikan kampus tersebut bersih dari kekerasan. “Mau itu pengasuh dari TNI atau Polri, saya melihatnya tetap tidak efektip. Kolusi tetap akan terjadi antara pengasuh, praja dan orangtua,” tandas Hasanudin.
Hasanudin mengaku sangat setuju jika sistem pembinaan yang dilakukan di IPDN, sama dengan PT (Perguruan Tinggi) lain seperti UNPAD, ITB atau yang lainnnya, dengan sistem senat. Karena para praja setelah lulus, akan kembali ke masyarakat sama seperti lulusan PT lainnya.
Sudah menjadi rahasiah umum, jika di lembaga pendidikan mana pun ada kecenderungan banyak titipan anak pejabat, termasuk di IPDN. Ini menurut Hasanudin, hal yang lumrah, karena keinginan para pejabat untuk melestarikan jabatannya.
“Memang tidak semua anak pejabat yang akhirnya tidak sungguh-sungguh dalam menuntut ilmunya, tapi kebanyakan mereka menjadi manja. Sehingga yang harusnya hanya tinggal di barak, ini malah punya tempat kos,” tegasnya. (Kos/dtnc/Buser Trans Online)

 

Iklan

2 thoughts on “Nuasa Kekerasan Di IPDN Masih Ada

    Gilang said:
    15 Juni 2011 pukul 4:05 PM

    gusur aja tuh sekolah yang sok militer..jadiin aja sekolahnya kandang kambing…

    Suka

    MP said:
    22 Februari 2012 pukul 3:36 PM

    IPDN sangat dibutuhkan Negara Indonesia,IPDN mencetak pemimpin pelayan masyarakat yg berdedikasi tinggi,loyal dan respect terhadap situasi apapun dan kapanpun dan tau akan solusinya IPDN=lem perekat bangsa bahkan tiap kabupaten di Indonesia mengirim kadernya. disiplin adalah nafas para praja,performance kader pemerintahan lihatlah para praja ipdn

    Kepada Media massa sebagai salah satu sumber informasi bagi masyarakat, selayaknya lebih mendidik terhadap pemberitaan yang disampaikan. Berbagai cara bisa dilakukan seperti: memberi berita yang berimbang, sehingga tidak melencengkan dari persoalan yang sebenarnya. Profesionalisme harus dijunjung tinggi. Bukan berdiri diatas kepentingan pribadi dan golongan.

    Kepada wakil rakyat atau figur masyarakat, dll, sebaiknya selalu memikirkan segala sesuatunya lebih dalam dan terperinci, sebelum mengeluarkan pendapat atau opini. sehingga dapat mengulas dengan tajam dan tepat. Kalau hanya sekedar mengatakan arti “IPDN adalah institut pembunuh dalam negeri” atau “IPDN (STPDN) hanya menghasilkan drakula berseragam” dan lain sebagainya, itu tidak lebih dari percakapan dan pemikiran orang yang sedang menikmati secangkir kopi hangat di kedai kopi.

    Kepada inu kencana, sebelum berucap dengan menggebu-gebu tentang “kebobrokan” IPDN (STPDN), sebaiknya bercermin dahulu kepada diri sendiri dan melirik sekilas kebelakang. Sebab, anda juga pernah melakukan “pembinaan” yang sama kepada praja baik senior dan junior IPDN (STPDN). Jadi, jangan sampai meludah keatas, jatuhnya akan ke muka bapak juga.

    Kepada seluruh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, universitas, institut dan lembaga pendidikan lainnya yang ada di indonesia, yang merasa keberadaan IPDN (STPDN) tidak diperlukan lagi, sampaikan hal tersebut kepada Presiden melalui Depdagri. Lalui prosedur yang ada dengan baik dan benar. Hal itu lebih baik dari pada hanya sekedar membuat keributan dan kemacetan dijalan dengan membakar ban, dll. Taukah anda arti PREMAN? Preman berasal dari bahasa inggris, yaitu Free Man (orang bebas). Membakar ban, membuat keributan dan kemacetan lalu lintas yang saudara lakukan adalah salah satu bentuk perbuatan Free Man, yaitu orang yang tidak ada aturan.

    Terima Kasih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s