Imlek Mestinya Jauh dari Kesan Hura-Hura

Posted on Updated on

YOGYA,  Buser Trans Online

Seraya mata terpejam, mulut sepasang pasangan muda-mudi berkemeja lengen pendek warna merah, tampak komat-kamit merapalkan doa. Sebentar kemudian keduanya melangkah ke belakang barang dua depa seraya menjulurkan tangan ke bibir sebatang lilin berwarna merah menyala. Lima buah hio yang masih mengepulkan asap itu tegak tertancap, tengadah ke atas seakan hendak merobek langit-langit bangunan tua di Jl Kranggan Yogyakarta .

Permohonan di tahun macan ini kami sederhana, hubungan kami bisa langgeng dan mampu bertahan sekuat macan. Tidak gampang tergoda oleh rayua dan iming-iming duniawi. Itu saja,” ujar sepasang muda-muda yang terbilang masih dalam rangka berbulan madu. “Kami menikah baru dua minggu kurang, jadi ya permohonanya ya itu tadi,” David-Susiana.

Itulah sekilas gambaran ritual dan upacara doa bersama dalam rangka menyambut tahun baru Imlek 2011. di Klenteng Poncowinatan, Jl Pasar Kranggan Yogyakarta. Dimulai dengan bebunyian genta disusul tabuhan bedug, ritual dibuka dengan upacara membakar dupa (hio) di depan altar utama, disusul kemudian acara doa bersama yang menandai berakhirnya tahun tahun Macan 2561 dan awal Tahun Kelinci 2562.

Dalam sambutannya pendeta Aji Candra mengatakan, tahun kelinci yang dipercaya sebagai tahun yang penuh dengan energi positif. Di tahun Kelinci masyarakat maupun pemimpin diharapkan memberikan contoh yang baik pada orang lain. Begitu pula seorang pemimpin harus berbuat lebih baik dari sebelumnya dan mengutamakan kebajikan. “Semua tahu mana yang baik dan mana yang jelek. Jangan hanya tahu saja, tetapi harus dilaksanakan yang baik tersebut. Itu yang disebut berbuat kebajikan,” kata Aji Candra.

Dijelaskan Aji, pemeluk Konghucu saat ini telah diberi kebebasan untuk beribadah. Pemerintah tidak ada lagi diskriminasi ataupun melarang umat Konghucu untuk beribadat. Imlek diperbolehkan dirayakan sebagai tanda pergantian tahun. Hal ini karena kebajikan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang memberi kebebasan kepada pemeluk Konghucu yang tertuang dalam Keppres tahun 2000.

Kemudian diperkuat oleh Presiden Megawati lewat Keppres bahwa tahun baru China (Imlek) sebagai hari libur nasional. Begitu pula Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menginstruksikan bahwa di Indonesia tidak ada lagi diskriminasi terhadap umat Konghucu.

Jauhi Kesan Glamour

Sementara itu, R Herianto Kurniawan bersama sang isteri tercinta A Titin Susilowari di jalan Adisucipto Yogykarta menerjemahkan perayaan Imlek dengan menggelar baktisosial berupa donor darah serta pengobatan gratis missal. Dengan menggandeng PMI Kota Yogyakarta, Apotik Golden berikit salon Golden Skin Care, Herianto bermaksud menabuhkan bahwa Imlek sejatinya merupakan perayaan pengalaman kasih yang membahagiakan dan terbagikan kepada sesama .

Tak heran kalau perayaan kali ini, perayaan Imlek yang digelar di rumahnya menjadi magnit tersendiri bagi kalangan masyarakat Yogyakrta da sekitarnya. Dari pantuan BUSER TRANS, penggembira Imlek datang tidak hanya berasal dari warga Tionghoa sendiri tapi merambah ke tokoh-tokoh masyarakat serta pejabat birokrasi dan warga kalangan bawah yang selama ini terpinggirkan.

“Wah, sudah pengobatannya dan obatnya gratis, pulangnya masih dikasih angpao lagi. Matur nuwun sagede kulo niki njih,” ujar salah seorang abang becak yang mengaku biasa mangkal di depan hotel Radison Gejayen Jogja.

Koh Bing, demikian sapaa  akrabnya, mengakui melalui perayaan Imlek menjadi medium yang diharapka bisa lebih mendekatkan diri dengan masyarakat setempat khususnya, dan masyarakat sekitar Yogya umumnya. Terhadap perayaan yang cenderung mengedepankan konsumerisme, Koh Bing memandang sebagai bius social dari perubahan zaman yang memang serba tak terduga.

Menurutnya, kalau hanya hura-hura dan cenderung bersifat konsumerisme, sama saja dengan mengkhianati makna spiritual yang dijunjung tinggi dalam perayaan Imlek dan akan melukai perasaan banyak orang yang masih hidup dalam kemiskinan.

“Perayaan semacam itu akan berujung pada eksklusivisme, bukan inklusivitas. Penjiplakan perayaan Imlek dari bangsa lain tanpa memerhatikan suasana batin dan kerohanian yang ada di Indonesia, pada gilirannya dapat menjadi bumerang bagi perkembangan bangsa Indonesia ,” papar Koh Bing. Cholis Buser Trans Online

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s