Kuasa Hukum Terdakwa Minta Hafid Dibebaskan Dari Segala Tuntutan Hukum

Posted on

Bebaskan Pengadilan Dari Mafia Hukum
Banten, Buser Trans OnLine
Nota Pembelaan (Pleidooi) atas surat tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) No. Reg.Perk : PDM-385/Srg/11/2010 terdakwa Hafid Asad E Muqri digelar di Pengadilan Negeri (PN) Serang itu berjalan dengan lancar.
Sebelum sidang digelar, Ketua Majelis Hakim, Syamsi menawarkan kepada terdakwa apakah ada pembelaan dari terdakwa, tawaran Hakim langsung ditimpali terdakwa dengan menunjuk Kuasa Hukumnya untuk membacakan pembelaan (Pleidooi).
Mengawali nota pembelaannya setebal 39 halaman itu, Kuasa Hukum Terdakwa, Syaiful SH menegaskan bahwa kebenaran yang kita cari dan ditegakkan adalah kebenaran sejati (materi eel wearheld) berdasarkan alat bukti yang sah yang terungkap dalam fakta persidangan. Ini menjadi tugas para penegak hukum, baik Majelis Hakim, Jaksa Penuntut Umum (JPU) sesuai fakta persidangan. Inilah harapan terdakwa maupun lapisan masyarakat pencari keadilan yang membutuhkan pelayanan hukum, tegasnya
Usai Kuasa Hukum terdakwa membacakan surat pembelaan (pleidooi), sidang yang dipimpin, Ketua Majelis Hakim, Syamsi langsung mengetok palu dan sidang akan dilanjutkan 17 Peberuari untuk mendengarkan keputusan Hakim.
Kuasa Hukum terdakwa, kepada Buser Trans OnLine, Syaiful SH memaparkan bahwa untuk mendapatkan kebenaran yang sejati, hanya dapat dicapai dalam proses peradilan yang “fair dan adil”. Jika tidak, maka kebenaran yang diperoleh adalah kebenaran semu, bukan kebenaran sejati. Sebab kebenaran semu adalah kebohongan. Selaku Penasihat Hukum, tugasnya adalah untuk mengajukan perlawanan dan pembelaan terhadap dakwaan dan surat tuntutan yang diajukan JPU. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bertujuan membantu Majelis Hakim dengan menemukan fakta-fakta dan alat bukti serta penerapan hukum materil maupun hukum formil yang benar dan adil, paparnya
Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh saksi-saksi dan saksi A’de Charge maupun terdakwa di muka persidangan A Quo, terungkap fakta-fakta hukum bahwa dr, Djaja Budi Suhardja MPH baru kenal dengan terdakwa pada hari Selasa, 7 September 2010 bertempat di Hotel Le Dian Serang pada jam 20.00 Wib. Sebelumnya dr. Djaja berhubungan dengan terdakwa melalui hand phone (Hp) orang lain sebanyak dua kali. Dari kesaksian Drs H. Ijul Jazuli bahwa uang sebesar Rp.200 juta atas penawaran dr. Djaja dan beliau yang langsung menyerahkan uang sebesar Rp 200 juta tersebut, paparnya
Tuntutan JPU, secara yuridis tentang surat dakwaan yang mana terdakwa dituntut bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 168 ayat (1) KUHP dengan menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 5 tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan tersebut sangat fantastis, mengingat perkara ini sarat dengan muatan politis. Hal itu juga terungkap dalam fakta persidangan bahwa pelapor yang menginginkan terdakwa, agar terdakwa tidak terus menerus membuka penyimpangan pengadaan alat kesehatan (Alkes) di Dinas Kesehatan Provinsi Banten dan pelapor meminta terdakwa jangan lagi melaporkan kepada pihak Kepolisian tentang perkara tersebut. Sementara perkara tersebut sudah dilaporkan Hafid ke Polda Banten. Sehingga saksi pelapor (Korban) menginginkan agar hal tersebut dihentikan, maka saksi pelapor dr. Djadja memberikan sejumlah uang kepada terdakwa Hafid dengan dalih donasi untuk LSM FOKSAD. Namun hal itu, malah diputar balikkan oleh pelapor dengan mengatakan bahwa dirinya diperas oleh terdakwa.
Oleh karena itu, apa yang didakwakan JPU, Mali Diaan pasal 368 ayat (1) tidak terbukti / terpenuhi dan JPU menyampaikannya tidak dengan kejujuran alias dipaksakan agar terdakwa dinyatakan bersalah oleh Majelis Hakim.
Bila mengurai dakwaan JPU Pasal 368 ayat (1) yang dikenakan pada terdakwa terkesan dikriminalkan. Menurut pendapat kami, perlu dibuktikan terlebih dahulu secara cermat unsur-unsur yang ada pada pasal yang didakwakan. Jadi dakwaan JPU sangat prematur dalam mengambil kesimpulan di atas, sebab pembuktian unsur “barang siapa”, yaitu subyek hukum yang diduga atau didakwa melakukan tindak pidana adalah bergantung pada pembuktian delik intinya. “Barang siapa” merupakan suatu elemen delik yang tidak dapat berdiri sendiri dan tidak dapat ditempatkan sebagai unsur pertama atas perbuatan sebagaimana yang dimaksud JPU.
Ditanya, apakah selama jalannya persidangan, ada campur tangan dari pihak tertentu untuk mempengaruhi keputusan Majelis Hakim..? Syaiful SH selaku Pengacara mengatakan bahwa dia belum melihat Hakim melakukan mafia peradilan. Tapi, untuk membuktikan hal tersebut terjadi atau tidak itu dapat dilihat dari Ketukan palu Hakim saat sidang keputusan Minggu depan. Ia berharap Hakim selaku ujung tombak penegakan keadilan dapat mencermati secara teliti dokumen pleidooi, agar vonis hukuman yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim, Minggu depan, 17 Pebruari, Hakim dapat menjatuhkan putusan dengan membebaskan hafid dari segala tuntutan hukum berdasarkan fakta kejadian dan Majelis Hakim juga diharapkan memiliki hati nurani sebagaimana yang diinginkan hukum yang sebenarnya tanpa menodai hukum itu sendiri. Sehingga Pengadilan tersebut bebas dari mafia peradilan dan masyarakat pun percaya terhadap kinerja aparat penegak hukum.
Ditemui di ruang kerjanya, saat diklarifikasi terkait dakwaan JPU Mali Dian dengan menitik beratkan pada Pasal 368 ayat (1) KUHP dengan dakwaan hukum 5 tahun penjara terkesan direkayasa dan dipaksakan..? Menjawab pertanyaan yang diajukan wartawan, JPU pengganti yang belum menguasai materi persidangan itu, dengan terlihat agak ragu, ia mengatakan bahwa intinya dakwaan JPU sudah sesuai fakta persidangan (bin/Buser Trans Online)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s