Dua Pejabat Pemprov Banten Akhirnya Mendekam Di Jeruji Besi Salemba

Posted on

LSM PANRI Desak Kejagung Bidik Dalangnya
Banten, Buser Trans OnLine
Kejaksaan Agung (Kejagung) menahan dua orang tersangka perkara korupsi pengadaan tanah untuk lahan kawasan terpadu pada Biro Umum dan Perlengkapan Pemerintah Propinsi Banten tahun anggaran 2009 dan 2010. Keduanya ditahan oleh tim penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus). “Hari ini tim jaksa penyidik pada Jampidsus telah melakukan penahanan terhadap dua orang tersangka perkara korupsi pengadaan tanah untuk lahan kawasan terpadu provinsi Banten,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Noor Rachmad, pada siaran pers, di Kejagung, Kamis (10/2). Kapuspenkum memaparkan, dua orang yang ditahan yaitu, mantan Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Pemprov Banten atau selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang kini menjabat sebagai Kepala Inspektorat Wilayah Prov Banten, Agus Randil.
Lalu, mantan Kepala Bagian Perlengkapan pada Biro Umum dan Perlengkapan Pemprov Banten atau selaku Koordinator Pejabat Pengendali Teknis Kegiatan (PPTK) Maman Suarta. “Alasan mereka ditahan, telah ditemukan alasan obyektif maupun alasan subyektif terhadap diri para tersangka sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 21 KUHAP,” tegasnya.
Selain itu, menurut Noor Rachmad, penahanan tersebut untuk menerapkan prinsip persamaan di depan hukum karena tersangka lainnya pada perkara yang sama telah dilakukan penahanan terhadap M. Hules, Ari Arifin dan deddy Suwandi di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Salemba Cabang Kejagung. “Kedua tersangka ditahan selama 20 hari sejak tanggal 10 Februari 2011 di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan,” pungkas pria yang pernah menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Gorontalo. Para tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (12) KUHP.
Menyikapi ditahannya dua Pejabat Pemprov Banten, H. Agus Randil dan H. Maman Suarta di Rutan Salemba. Ketua Umum LSM Pemantau Asset Republik Indonesia (PANRI) Banten, Aang Kunaefi mengatakan bahwa mengenai penahanan perlu disikapi dan aparat penegak hukum di tanah air pendalaman penyidikan dan penyelidikan, karena tidak tertutup kemungkinan akan bertambahnya tersangka-sangka lainnya. Ke-lima 5 tersangka pasti ada dalangnya. Dan dalangnya inilah yang harus di bidik Kejagung. Penyidikan dan penyelidikan yang dilakukan pihak aparat penegak hukum harus transparan kepada masyarakat. Karena apa, Banten ini sudah banyak kasus korupsi ujung-ujungnya tidak jelas. Oleh karena itu, hasil yang diduga adanya tindak pidana korupsi dan kerugian negara mencapai 60 milliar rupiah itu. Jadi, setiap orang yang melakukan tindak pidana korupsi, harta kekayaannya itu harus dimiskinkan. Sebetulnya koruptor lebih kejam dari Teroris, Dia memiskinkan orang-orang yang sudah miskin disikat juga. Jadi yang namanya koruptor itu biadab. Koruptor itu adalah musuh utama aparat hukum jadi harus benar-benar dimusnakan dan menjadi preoritas utama pemerintahan Presiden SBY.
Dengan kedekatannya pihak penguasa, baik institusi, kelembagaan maupun secara siapapun secara pribadi, masyarakat tidak memandang itu. Yang jelas, dan siapapun tidak boleh intervensi dalam hal penegakan hukum. Karena negara kita negara hukum, jadi mau Gubernur, mau siapapun tidak ada yang kebal hukum, baik dia adeknya, saudaranya dan kerabatnya dan lain sebagainya itu yang namanya hukum harus ditegakkan dan jangan sampai ada diskriminasi. Agar negara kita ini berdaulat dan negara benar-benar memiliki legitimasi dari dunia internasional bahwa negara kita menegakkan supermasi hukum. Bukan cuman ditahan di lepas, kalau sudah ditahan, pelepasan kebenaran dan kesalahan itu harus di depan pengadilan. Jangan ada SP3 dan lain sebagainya. Itu harus benar-benar diproses sampai meja hijau, jadi tidak ada yang namanya mau gubernur mau adek Presiden sekali pun kalau dia salah harus dihukum.
Ia menambahkan bahwa deretan pejabat pemrov mulai dari Eko, Iya Sukiya Agus Randil dan Maman Suarta yang telah masuk tahanan Salemba. Tidak tertutup kemungkinan ada tersangka-sangka lain yang mungkin menambah deretan-deratan korupsi ini kalau benar-benar hukum di Banten ditegakkan. Karena apa, di Banten ini, banyak sekali pejabat-pejabat mendapat kekayaan yang tidak rasional. Oleh karena itu, hasil kekayaan yang didapat secara tidak rasional dan bertentangan dengan hukum harus diselidiki aparat penegak hukum. Hampir 10 (Sepuluh) tahun menjadi provinsi, penderitaan masyarakat masih banyak yang makan nasi Aking. Disisi lain, pejabat berpesta pora dan bermewah-mewah dan berhasil dalam hal menumpuk harta kekayaan. Ketika dipertanyakan masyarakat, katanya harta warisan ..? Sedangkan mereka itu kita tahu latar belakangnya, keluarga siapa.. tiba-tiba menjadi kaya raya..perlu dipertanyakan ?
Untuk itu, pihak KPK dan Kejagung harus mengadakan investigasi kepada turun ke lapangan mengecek satu persatu pejabat tinggi pemprov Banten dari A-Z hartanya didapat dari mana, harus diperjelaskan sesuai UU No.14 Tahun 2008. Dan bila perlu harta kekayaan pejabat itu dibeberkan di Media Massa, agar masyarakat tahu. Sebab di Banten timbul kesenjangan, sehingga kita mengambil istilah Prof Rias Rasyid mengatakan bertumbuhnya otonomi derah dijadikan seperti raja-raja kecil. Orang yang berkuasa dia menjadi kaya raya, orang yang tidak berkuasa tetap miskin. Oleh karena itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ke depan terjadinya diskiriminasi bangsa, bagaimana hukum itu harus benar-benar ditegakkan, jagan pilih kasih. Mau siapapun itu, jika dia bersalah harus diproses seuai hukum dan harta kekayaan disita negara dan hasil penyitaaan itu harus dipublikasikan, jangan sampai tidak jelas, tandasnya(bin/Buser Trans OnLine)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s