Direktur BRJ Memohon PN Serahkan Uang Hasil Lelang

Posted on

Pasca Lelang Eksekusi

TANJUNGPINANG–Buser Trans Online

Kasus gugat menggugat dua perusahaan tambang granit raksasa di Bintan. Yakni, PT Bina Riau Jaya (BRJ) dan PT Sindo Mandiri (SM) terus berlanjut di pengadilan.

Perkembangan terakhir pada kasus perdata ini, pihak Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang telah melelang barang sita jaminan milik PT Sindo Mandiri (termohon) pada tanggal 4 Oktober 2010 silam.

Adapun barang yang dilelang dalam perkara perdata No.01/PDT.G/2003/PN.TPI itu, berupa 11 item barang-barang bergerak, dengan perincian. Delapan unit Dump Truck merek Hino/Nissan, satu unit Crane merek Tadano dan dua unit Crawler Drill merek Nissan.

Direktur PT BRJ Kasan selaku pemohon dalam perkara tersebut menjelaskan, pelelangan dilakukan di PN Tanjungpinang melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Batam. Lelang dimenangkan oleh PT Multi Prima dengan hasil pelelangan Rp320 juta.

Kasan menambahkan, proses pelelangan dilakukan berdasarkan penetapan Ketua PN Tanjungpinang No.01/Pen.PDT.G/2003/PN.Tpi tanggal 19 Agustus 2010 dan pengumuman pelelangan dilakukan di koran harian Sijori Mandiri tentang lelang eksekusi, yang terbit tanggal 28 September 2010 oleh PN Tanjungpinang.

‘’Anehnya hasil pelelangan sampai saat ini tidak diserahkan oleh PN Tanjungpinang kepada pemohon lelang dalam hal ini PT Bina Riau Jaya (BRJ),’’ kata Kasan saat dijumpai di Kantor Advokat Edy Rustandi SH., MH & Associates di Jalan Sunaryo Tanjungpinang, belum lama ini.

Kasan menilai, putusan perkara perdata ini sudah inkrach atau sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Pasalnya, putusan ini sudah berdasarkan keputusan PN Tanjungpinang, lalu banding di Pengadilan Tinggi, hingga  kasasi di Mahkamah Agung (MA) dengan No.1695K/PDT/2004 tanggal 15 Februari 2006, majelis hakim tetap memenangkan PT BRJ.

Kasan menegaskan, pasca keluarnya putusan MA tahun 2006 silam, manajemen PT SM telah dipanggil oleh pihak PN Tanjungpinang (anmanning) untuk melaksanakan putusan MA tersebut secara sukarela.

‘’Namun mereka tidak melaksanakannya. Maka dikeluarkanlah eksekusi secara paksa dengan menyita sejumlah barang yang bergerak milik PT SM oleh PN Tanjungpinang tersebut,’’ kata Kasan.

Menurutnya, kewajiban PT SM  kepada PT BRJ sesuai putusan MA tersebut adalah membayar kerugian berupa moril Rp250 juta dan materil Rp732,645 juta dan uang 45 ribu dolar Singapura.

‘’Pada tanggal 13 Oktober 2010 kantor Advokat Edy Rustandi SH., MH & Associates selaku kuasa hukum kami, telah melayangkan surat No. 09/PD/ER&A/2010 prihal permohonan penyerahan uang hasil lelang eksekusi kepada Ketua PN Tanjungpinang. Namun hingga kini tidak ada tanggapan atas surat tersebut dari pihak pengadilan,’’ Kasan berkeluh kesah.

Dikatakan, uang hasil lelang eksekusi ini hanya sebagian kecil saja dari hasil lelang obyek barang sita jaminan yang sebagian sudah rusak dan hilang. Karena, total kewajiban PT SM kepada BRJ sesuai putusan MA mencapai Rp1 miliar lebih.

Lebih lanjut Kasan secara kronoligis menjelaskan, cikal-bakal perkara perdata tersebut. Bahwa, pada September 2004 silam, PT BRJ mendaftarkan gugatan perdata atas PT SM di PN Tanjungpinang. Dari putusan profesi, mengabulkan sebagian gugatan dari PT BRJ.

PT SM untuk sementara waktu tidak dibenarkan melakukan aktivitas di jalan tambang yang dibangun PT BRJ. Lahan dipersimpangan jalan diputuskan milik PT BRJ. PT SM juga harus membayar uang paksa (dwangsome) sebesar Rp500 ribu setiap hari jika tidak mematuhi putusan terhitung 25 Januari 2005.

Pada Maret 2005, lanjut Kasan, putusan akhir PN Tanjungpinang menetapkan mengabulkan gugatan PT BRJ untuk sebagian gugatan. Menyatakan tanah simpang jalan tambang milik PT BRJ. PT SM dinyatakan inkar janji terhadap Distamben Riau cq Distamben Kepri (Bintan, red). PN pun memutuskan sita jaminan terhadap alat bergerak milik PT SM.

Selanjutnya PT SM banding pada Agustus 2005. Tapi, Pengadilan Tinggi Riau tetap menyatakan menguatkan putusan PN sebelumnya, 23 Maret 2005. PT SM kembali menyatakan kasasi. Pun, Mahkamah Agung (MA) menyatakan BRJ sebagai pemenang.

Atas dasar itulah saat itu, manajemen BRJ mengajukan permohonan eksekusi alat berat dan PN juga pernah menegur PT SM untuk membayar kewajibannya. Tapi, PT SM malah melanggar putusan-putusan sebelumnya dan menggugat PT BRJ.

‘’Sekarang alat-alat berat itu sudah dilelang dan sudah diputuskan pemenangnya. Yakni PT Multi Prima tersebut. Pihak pemenang lelang juga mengaku sudah membayarnya melalui rekening bank milik PN Tanjungpinang. Sekarang kami selaku pemohon meminta kepada PN untuk menyetorkan uang hasil lelang itu kepada manajemen BRJ. Karena uang itu hak milik kami,’’ demikian Kasan. (Suhardi / Amril /Buser Trans Online).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s