Musium Batik Jogja, Bertahan dalam Kesunyian

Posted on

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

YOGYA – Buser Trans Online

Publik Yogyakarta lebih mengenalnya sebagai tempat klangenan wong sepuh ketimbang sebagai Museum Batik. Kendati tampilannya tak segembyar tempat wisata lainnya, bangunan tua yang terletak di Jl. Dr. Sutomo No. 13 A Yogyakarta ini, tak sepi-sepi amat.

Museum yang mempunyai luas 400 meter persegi ini dirintis kemunculannya sejak 1960-an oleh Raden Nganten (RNgt) Dewi Sukaningsih sebagai pemilik museum.

Pemerintah kemudian mengakui keberadaan Museum Batik Yogyakarta pada 12 Mei 1979. Dewi Sukaningsih adalah generasi ketiga yang merawat lebih dari 1.000 batik kuno koleksi keluarga yang dimiliki turun-temurun dari tahun 1700 hingga sekarang di dalam museum ini.

“Ya begini ini yang namanya museum di Indonesia. Kaya gudang. Ya kan? Semua museum di Indonesia kan kondisinya seperti gudang,” kelakar Prayogo, Kurator Museum Batik Yogyakarta saat ditemui BUSER TRANS beberapa hari lalu.

Kelakar Prayogo barangkali hanya sikap sedikit merendah dari seorang pengelola sebuah museum yang telah berusia puluhan tahun dan mempunyai ribuan koleksi batik yang menunjukkan betapa “berharganya” museum yang berada di Jalan Dr Sutomo No 13-A Kota Yogyakarta ini. Secara fisik bangunan, Museum Batik Yogyakarta mungkin saja seperti bangunan tua. Tapi isinya, tak ternilai harganya.

Di museum itu tersimpan koleksi batik paling kuno di Indonesia. Selain koleksi batik, museum ini juga mempunyai ratusan bahkan ribuan peralatan membatik seperti cap, canting, tinta malam yang tersimpan rapi. Dengan demikian pengunjung bisa melihat sekaligus belajar mengenai perkembangan peralatan membuat batik dari masa ke masa.

Meskipun kuno, batik yang dikoleksi di Museum Batik Yogyakarta tetap menyenangkan untuk dipandang. Salah satunya adalah batik dengan motif sarung isen-isen antik dari Pekalongan buatan tahun 1880-1890. Batik motif ini mempunyai corak yang berupa untaian bunga, tumpal blabakan, gelar seling lung daun dengan warna biru, hijau serta warna kayu berbahan mori sen (Prisima) yang diciptakan wanita warga Belanda bernama EV Zeuylen.

Pengunjung juga dapat melihat indahnya batik jenis Sarung Pajang Soga Jawa buatan tahun 1920-1930. Batik ini mempunyai corak boketan adu jago dasar polos dengan warna soga Jawa, hitam dan putih. Sementara bahan kain yang digunakan adalah mori sen dengan teknik proses batik tulis. Batik jenis Sarung Pajang Soga Jawa ini dibuat oleh Lie Djing Kiem.

Bagi yang penasaran melihat indahnya batik dari masa ke masa tidak ada salahnya mampir ke Museum Batik Yogyakarta. Museum yang berlokasi di Jl Dr Sutomo No 13-A itu menyimpan koleksi batik dengan kriterua “kuna” dari tahun 1700 hingga tahun 1950.

Cerita pengunjung, Prayogo punya kreteria tersendiri yang bisa dikelompokkan menjadi tiga criteria, yaitu pengunjung umum, pengunjung pendidikan dan pengunjung penelitian. Ada pengunjung umum yang datang hanya melihat-lihat koleksi batik yang tersimpan di Museum Batik. Pengunjung pendidikan, biasanya adalah pelajar baik dari sekolah dasar maupun menengah yang berkunjung museum juga untuk praktek membatik.

“Banyak juga pengunjung dari luar negeri seperti dari Korea, Jepang dan Jerman yang datang ke Museum Batik untuk melakukan penelitian batik kuno,” jelas Prayogo yang dengan alasan keamanan tidak membolehkan wartawan memotret batik-batik koleksi museum batik. Ia menambahkan pengunjung luar negeri memiliki tingkat kekritisan yang sangat besar dibandingkan wisatawan dalam negeri. Mereka akan selalu bertanya dengan detail setiap motif yang dilihat.

Museum Batik biasanya ramai kunjungan jika liburan sekolah tiba atau pada saat musim mahasiswa sedang menyelesaikan tugas akhirnya. “Kalau pas ramai ya pengunjungnya bisa mencapai 200-an orang. Tapi kalau lagi sepi hanya 30-an orang setiap pekannya,” kata Prayogo.

Kendati koleksi batik yang dimiliki musium itu terbilang lengkap, namun Prayoga mengakui pihaknya belum bisa menarik hati masyarakat. Hal itu menurutnya karena rasa cinta masyarakat kepada produk batik Tanah Air masih minim.

Sedikitnya jumlah pengungjung tentu akan mengganggu operasional Museum Batik sendiri. Untuk merawat koleksi batik di museum itu sangat mahal. Setiap minggu, lebih dari Rp 1 juta dikeluarkan untuk perawatan batik saja.

“Kita sudah kesulitan dalam hal pembiayaan untuk perawatan koleksi batik. Selama ini tidak ada bantuan dana untuk pemeliharaannya. Padahal, batik yang ada di museum ini merupakan salah satu kekayaan bangsa Indonesia,” ungkapnya seraya mengatakan bahwa pemerintah masih belum memberi perhatian yang besar. Meski demikian, dia mengatakan museum akan dia pertahankan meski dalam kondisi “kesepian”. Cholis Buser Trans Online

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s