Adik Saya Dikeroyok Seorang Oknum Pejabat Sumedang

Posted on Updated on

Surat Pembaca;

Pada tanggal 6 Maret 2010, saya beserta 2 adik laki2 saya berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya menuju jakarta dengan membawa abu kremasi ayah saya yang baru meninggal tgl 3 Maret yang lalu. Kedatangan kami ditunggu keluarga besar dan teman-teman papa di Jakarta. Acara doa dan malam kenangan papa sudah disiapkan untuk mulai jam 7 malam itu.

Karena keadaan cuaca yang kurang baik, Lion air JT 693 jurusan Jakarta yang kami tumpangi mengalami keterlambatan selama 25 menit. Perasaan kami mulai resah karena ini berarti kemungkinan besar kami akan terlambat tiba di Jakarta.Tepat pukul 15.00 WIB, kami pun dipanggil boarding. Setibanya kami di pesawat, kami mendapati seorang pramugari yang sedang berdebat dengan seorang bapak yang duduk di deretan pintu darurat (row no.31 atau 32).

Awalnya kami tidak terlalu memperhatikannya. Namun ketika perdebatan ini terus berlangsung dan beberapa pramugari dan pramugara mulai berkumpul, kami mulai mendengarkan dengan lebih teliti. Ternyata alasannya sederhana. Putra dari bapak ini duduk di deretan pintu darurat, namun peraturan aviasi melarang anak di bawah umur untuk duduk di area ini untuk alasan keselamatan. Namun bapak ini keberatan anaknya pindah tempat duduk dan memilih untuk terus berdebat dengan awak pesawat. Pesawatpun tidak dapat diberangkatkan.

Dan kamipun semakin terlambat. 40 menit kemudian, penumpang semakin resah. Adik saya pun menanyakan perkembangan permasalahannya dan meminta pihak Lion Air untuk segera mengatasi permasalahannya agar pesawat dapat segera diberangkatkan. Awak pesawat mengaku kewalahan dan memanggil security dari Bandara Juanda. Melihat adik saya bercakap2 dengan awak pesawat, bapak tersebut meminta adik saya untuk tidak ikut campur. Pernyataan ini dijawab adik saya dengan meminta bapak ini mengikuti permintaan awak pesawat sehingga ratusan penumpang yang lain dapat segera berangkat.

Beberapa penumpang pun mulai berdiri dan menyuarakan keberatannya.Mendapat tekanan dari penumpang2 lain, bapak ini pun mengalah dan membiarkan anaknya berpindah tempat duduk.namun disertai ancaman kepada adik saya, “Awas kamu ya! Tunggu kalau kita mendarat nanti!” 1,5 jam kemudian, kami pun sampai di Jakarta. Pada saat kami berjalan di landasan pesawat, bapak tersebut di atas mulain mendorong-dorong anaknya ke arah adik saya. Berusaha memancing adik saya untuk memukul.

Kami tidak menghiraukan mereka dan terus berjalan. Beberapa penumpang sepesawatpun mendekat dan membela kami. Seorang laki-laki yang kami duga adalah bagian dari rombongan bapak tersebut menghampiri kami dan meminta maaf. Ini kami sanggupi dengan senang hati.

Kami pun terus berjalan dan menganggap selesai permasalahannya. Sesampainya kami di mobil, adik saya yang sedang dalam keadaan setengah menunduk (sedang memasukkan tas) ditarik dan dikeroyok oleh bapak tersebut, anaknya, dan seorang laki-laki lain yang belakangan kami ketahui adalah keluarga bapak tersebut.

Seusai kejadian pengeroyokan ini, kami pun dibawa ke polres bandara untuk melaporkan kejadiannya. Anggota Polres sangat membantu dan akomodatif. Dalam waktu singkat, dua dari pelaku pengeroyokan sudah dapat diamankan (sang anak dan seorang keluarga).

Sayangnya, pelaku utama yang ternyata adalah Kepala Teknologi dan Informatika Dinas Perhubungan Sumedang bernama Drs. Ade Setiawan Msi melarikan diri. Seluruh keluarganya diamankan di polres dan diminta untuk menghubungi Pak Ade Setiawan untuk menyerahkan diri. Namun ia tetap menolak untuk datang ke Polres dan mengakibatkan seluruh keluarganya harus menghabiskan waktunya di Polres.

Sayang disayangkan bahwa seseorang yang bekerja di Dinas Perhubungan gagal untuk memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan, menyebabkan keterlambatan pesawat, dan melakukan pengeroyokan. Hingga saat saya menulis ini pada hari Senin jam 3 pagi, kami semua masih di Polres tanpa tanda2 dari bapak Ade Setiawan tersebut apalagi permintaan maaf.

Ini jelas2 menunjukan perilaku premanisme yang tidak dapat ditoleransi di negara hukum ini. Apalagi Ade Setiawan ini adalah seorang pegawai negeri yang notabene harusnya memberikan contoh. Saya segera berusaha untuk melaporkan kejadian ini kepada pihak Lion air. Sayangnya laporan ini hanya dianggap sebagai angin lalu dan tidak ada seorangpun yang melakukan apapun untuk menindaklanjuti permohonan saya untuk meminta salah satu awak pesawat JT 693 sebagai saksi di polres. Ini saya rasa juga sebuah hal yang sangat mengecawakan.

Bukan saja awak penerbangan JT 693 gagal mengatasi permasalahan penumpang ‘bandel’ secara profesional dan menyebabkan keterlambatan pesawat, awak darat Lion Air juga menunjukan ketidakprofesionalannya dengan tidak menanggapi atau membantu. Bagaimana mungkin seseorang yang bekerja di dinas perhubungan tidak mengerti pentingnya peraturan keselamatan aviasi? Dan lebih-lebih sebagai seseorang yang ‘seharusnya’ berpendidikan dan memiliki jabatan ‘lumayan’ sebagai Kepala Teknologi dan Informatika Dinas Perhubungan Sumedang, memutuskan untuk mengeroyok seseorang adalah sebuah tindakan kerdil dan merendahkan.

Andy Saputra Jakarta Selatan, Alamat Lengkap Ada Di Redasi Buser Trans Online

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s