Kasari Isteri Oknum Polisi Disidang

Posted on

SLEMAN – Buser Trans Online

Sidang perdana terhadap seorang anggota Polres Sleman, Ipda Dani Purnama (33) terkait kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) digelar di Pengadilan Negeri Sleman, Senin (28/2) siang. Dalam sidang dakwaan itu, jaksa penuntut umum Cut Henny Usmayanti menghadirkan empat saksi, di antaranya saksi korban yaitu istri terdakwa, Rini Hidayanti.

Persidangan tersebut dipimpin ketua majelis hakim Dahlan dengan hakim anggota Kadarisman dan Suratno. Dalam persidangan, saksi koban menuturkan bahwa pada 9 September 2010 lalu, dirinya ditampar sebanyak dua kali di bagian kepala oleh suaminya. Akibat tamparan itu, korban mengalami pusing-pusing. Hasil dari visum di RSUD Sleman, korban dinyatakan mengalami benturan benda tumpul.

Waktu itu, korban mengisahkan, suaminya mengajak dirinya untuk menyelesaikan masalah rumah tangga mereka yang sudah beberapa waktu kurang harmonis karena kehadiran wanita idaman lain (WIL). Akhirnya,diperoleh kesepakatan untuk bertemu di rumah Samiyono (saudara korban).

Namun, kedua pasangan yang telah dikaruniai satu anak perempuan berusia lima tahun itu justru cekcok dan saling menyalahkan. Setelah itu, terdakwa mengatakan bahwa hari itu adalah yang terakhir kalinya dia bertemu dengan istrinya. Kesal karena korban enggan diajak bersalaman, terdakwa kemudian menampar korban yang saat itu duduk memangku anaknya.

Mendengar kesaksian istrinya dan juga ketiga saksi lain, terdakwa sama sekali tidak merasa keberatan. Bahkan, korban yang mengaku khilaf itu kemudian berkali-kali mengucapkan kata maaf dan berjanji untuk membangun keutuhan rumah tangganya lagi. Sidang akhirnya dilanjutkan pada 3 Maret mendatang dengan agenda pembacaan tuntutan.

Ditemui diluar persidangan, Cut Henny mengatakan terdakwa dijerat pasal 44 ayat 1 UU No.23/2004 dengan ancaman maksimal 5 tahun. Namun, saat ditanya mengenai alasan kenapa tidak dilakukan penahanan terhadap terdakwa, baik oleh penyidik maupun oleh JPU, Cut Henny menjawab bahwa dirinya hanya sebagai jaksa pengganti saja.

Menurut Kadiv Humas Jogja Police Watch Baharuddin, seharusnya dilakukan penahanan terhadap terdakwa karena ancamannya mencapai lima tahun. “Kalau relawan yang hanya kedapatan membawa multi tools saja harus mendekam di tahanan, kenapa terdakwa yang ini tidak? Harusnya aparat penegak hukum tidak pandang bulu dalam menegakkan keadilan,” tegas Baharuddin. Cholis Buser Trans Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s