Jogja, Kota Favorit Tujuan Gepeng dan WTS

Posted on

YOGYA, Buser Trans Online

Satu lagi predikat yang disandang Yogyakarta, yakni Kota Gepeng. Maklum, belakangan ini Yogyakarta menjadi kota tujuan bagi gelandangan dan pengemis (gepeng), anak jalanan (anjal) dan wanita tuna susila (WTS).

Dari catatan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Yogyakarta, 90% gepeng, ajal, dan WTS yang ada di Kota Yogyakarta berasal dari luar daerah. “Dari hasil razia dan sudah diidentifikasi,diketahui hanya 10% dari gepeng, anjal dan WTS yang asli dari Kota Yogya,” kata Sekretaris Dinsosnakertrans Yogyakarta Christina Siwi Subektiastuti.

Kota Yogyakarta merupakan salah satu daerah transit. Kemungkinan besar para gepeng, anjal,dan WTS ini datang ke Yogyakarta karena lokasinya yang menarik. “Kita ketahui sendiri, di mana saja kalau ada gula mesti ada semut,” katanya.

Gepeng, anjal, dan WTS yang ada di Kota Yogyakarta setelah terjaring dalam razia langsung dimasukkan ke penampungan sementara di UPT Panti Karya yang berada di daerah Karanganyar,Mergangsan, Yogyakarta. Di sana mereka akan diidentifikasi dan dirujuk sesuai dengan jenis dan klasifikasinya. Untuk menangani gepeng yang berasal dari luar kota,pihaknya bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Havara.

Sementara untuk anak jalanan, Dinsos bekerja sama dengan koalisi peduli anak. “Untuk pendampingan gelandangan dan pengemis yang berasal dari warga kota yang kita garap keluarganya, tentang bagaimana latar belakangnya, bagaimana meningkatkan kesejahteraan keluarganya,” paparnya lagi.

Topo Sudarto, pekerja sosial Dinsos yang berada di UPT Panti Karya membenarkan bahwa dari sekian banyak gepeng, anjal, dan WTS yang berada di penampungan sementara UPT Panti Karya berasal dari luar daerah. “Hanya sekitar 10% yang dari Kota Yogya, kebanyakan dari luar daerah ada yang dari Surabaya, Indramayu, Bantul, Kulonprogo,” ungkapnya.

Topo menjelaskan, Januri lalu jumlah anjal dan gepeng yang di tampung di UPT Panti Karya 83 orang.Jumlah ini pada Februari naik mencapai 95 orang. Adapun pada 2006 lalu jumlah anjal dan gepeng yang dibina mencapai 557 orang, 2007 sebanyak 989 orang, dan 2008 sebanyak 937 orang.

“Mereka yang terjaring dalam razia dan ditampung di sini itu ternyata ada juga yang sebelumnya pernah terjaring dan setelah dikembalikan di daerahnya kembali lagi ke Yogya,”ungkapnya.

Menurut sosiolog UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Sulistyaningsih, para gepeng, anjal, dan WTS ini tertarik datang ke Kota Yogyakarta karena dipengaruhi banyak faktor seperti daya tarik Yogyakarta secara historis dan salah satu daerah tujuan wisata.

Untuk menangani permasalahan ini, hendaknya diperlukan kerja sama dari beberapa pihak, termasuk dari pemerintah daerah asal gepeng dan anjal ini. Sehingga nantinya ada regulasi kebijakan untuk mengantisipasi timbulnya citra negatif bagi Kota Yogyakarta. “ Semua pihak harus terlibat untuk mengurusi persoalan ini, termasuk pemerintah daerah asal gepeng dan anjal,” tandasnya.  cholis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s