Teater Garasi, Bius Sosial Tubuh Pedangdut

Posted on

YOGYA, Buser Trans Online

Tubuh Ketiga adalah karya teranyar Teater Garasi. Karya ini pertama dipentaskan dalam Festival Salihara Ketiga pada tahun 2010. Dan kini Tubuh Ketiga digelar kembali di hadapan publik kota Yogjakarta.

Proses penciptaan karya ini dimulai pada bulan Maret 2010. Tim Teater Garasi melakukan riset dan observasi beberapa kali ke Indramayu untuk mempertajam tema dan menggali kemungkinan-kemungkinan bentuk. Dalam produksi kali ini Teater Garasi melibatkan pula Wangi Indriya (dalang dan penari topeng Indramayu) dan Hanny Herlina (koregrafer dan penari dari Jakarta).

Pentas ini adalah semacam esai tentang Tarling-Dangdut dan Indramayu. Tepatnya, semacam perenungan dan penelusuran atas kebudayaan yang terbentuk di ruang “antara”. Atas bentuk dan ekspresi kebudayaan “ketiga”, yang tak lagi bisa dirumuskan dengan kategori dan ukuran-ukuran yang pasti.

Sebagai sebentuk kesenian yang berkembang di pesisir utara Jawa, Tarling-Dangdut begerak di antara kebudayaan agraris dan industrial, antara desa dan kota, antara yang tradisional dan yang modern.

Tarling- Dangdut juga problematis. Ia dianggap bukan seni tradisi tetapi juga belum seni modern. Tapi di tengah posisi problematis itu ia terus tumbuh menjadi penanda kota dan wilayah Indramayu.

Sementara sebagai sebuah kota, Indramayu tumbuh di antara pusat-pusat kebudayaan yang saling menanamkan pengaruhnya—Jawa Tengah (Solo dan Yogyakarta), Jawa Barat (Bandung), dan Jakarta yang merupakan pusat Indonesia modern. Ia bisa dibaca sebagai desa sekaligus kota yang tumbuh di “ruang ketiga”.

Itulah entitas kebudayaan yang tidak tumbuh dari satu definisi atau identitas saja, tetapi tersusun dari pertemuan dan percampuran budaya-budaya yang berbeda. Tubuhnya terbangun dari lapisan-lapisan. Karena itu ia hanya bisa dipahami dengan berbagai pendekatan dan sudut pandang.

Sebagai semacam esai, pertunjukan ini kemudian melihat, sebagaimana Tarling-Dangdut dan Indramayu, dalam banyak hal Indonesia adalah (atau: tersusun dari) entitas-entitas kebudayaan “ketiga”.

Pertanyaan atau isu penting yang kemudian muncul adalah: apa yang bisa kita lakukan (kita ciptakan) dari dan dengan seluruh tradisi serta kebudayaan yang membentuk kita? Karenanya, sebagai suatu pertunjukan karya ini adalah juga suatu perayaan atas apa yang berada di antara.

Perayaan (juga keberpihakan) atas sikap kreatif yang rileks dalam berhadapan dengan sesilangan kebudayaan yang datang dari mana-mana; dari luar maupun dari dalam, dari depan maupun dari belakang. Sikap yang lebih produktif dan menghargai perbedaan ketimbang fundamentalisme serta esensialisme identitas yang keras dan semakin menyerang siapapun yang berbeda itu. Cholis

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s