Nurmanto Disinyalir Jadi Sasaran Rekayasa Hukum Di Tanjung Balai

Posted on Updated on

Banyak Pihak Minta Masalah Ini Agar Dibuka Ke Publik

Tanjung Balai, BUSER Trans Online

Sebuah permasalahan yang diduga merupakan rekayasa Hukum kembali mencuat dari Kota Tanjung Balai Propinsi Sumatera Utara. Masalah yang disinyalir melibatkan oknum Kejari Tanjung Balai dan Kepolisian Resor Tanjung Balai itu dialami oleh Nurm yang disangkakan sebagai pelaku pemerkosaan terhadap seorang anak tunawicara dan terbelakang mental berinisial EU.

Namun uniknya, dalam perjalanan kasus tersebut didapati banyak sekali kejanggalan terjadi seperti, dalam hal pembuatan Berita Acara Pemeriksaan di Mapolres Tanjung Balai (menyangkut indikasi rekayasa foto, rekayasa keterangan saksi Nur, rekayasa alamat korban yang disebut di Pematang Siantar namun menurut informasi ternyata di Es Dengki Tanjung Balai), proses Hukum yang dilakukan oleh Kejari Tanjung Balai (Jaksa menerima BAP yang diduga sarat rekayasa), proses persidangan di Pengadilan Negeri Tanjung Balai serta penahanan Nurm di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Balai yang menurut sumber telah melewati batas waktu.

“Saya ditangkap Polres Tanjung Balai tanggal 29 April 2010 dalam sangkaan melakukan tindak pidana pemerkosaan dan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan anak yang katanya saya lakukan pada Eka Uli, sementara saya bersumpah demi Tuhan saya nggak kenal dengan Eka Uli apalagi memperkosanya.” keluh Nurm pada Buser. “Saya juga mendengar di Pengadilan, kata penterjemah Korban, saya melakukan pemerkosaan itu tanggal 11 Juni 2010, sementara yang tertera di BAP setahu saya tanggal 29 April 2010, ini saja sudah janggal. Belum lagi sewaktu Hakim menanyakan ketika diperkosa apakah Eka Uli saya pukul, yang dijawab ya, dipukul diatas kepala dengan tangan menggenggam dan ditampar lebih dari 5 kali dibagian kepala pipi sebelah kiri dan kanan, kemudian Hakim mengatakan kalau begitu kamu pingsan? Pertanyaan itu membuat Eka Uli merubah jawabannya menjadi tidak dipukul, sementara hasil tanya jawab antara Hakim dan Eka Uli itu tidak tertera dalam surat tuntutan pidana.” tambahnya mengimbuhkan.

Masih menurut Nurm, bahwa ada banyak sekali hal yang dia tidak mengerti telah terjadi dalam proses Hukum yang dialaminya itu diantaranya, EU mengatakan sepulang dari SDLB telah melintas dari jalan FL Tobing simpang jalan Gaharu, dimana saat itu tiba-tiba Nurm datang mengendarai betor (beca motor/Pen) dan langsung menarik tangan sebelah kanan EU dengan tangan sebelah kiri Nurm, kemudian dikatakan Nurm telah membawa EU kerumah kosong dan memperkosanya, dimana EU telah melakukan perlawanan dengan cara mencakar tubuh Nurm pada bagian dada dan bagian belakang lengan tangannya.

“Bahwa sepengetahuan saya, biasanya sekolah disitu bubar sekitar pukul 10 atau 11 WIB, dimana apabila hal itu benar adanya, maka perlu diteliti ulang apakah keterangan tersebut benar adanya. Karena sepengetahuan saya, didaerah itu (Jl. FL Tobing simpang Jalan Gaharu/Pen) pada saat-saat itu keadaan tidak pernah sepi atau sunyi, bagaimana mungkin saya bisa menarik Eka Uli naik ke betor saya tanpa ada orang sekitar yang curiga atau memperhatikan perbuatan tersebut? Apalagi dikatakan Eka Uli telah melakukan perlawanan, tentunya masyarakat akan melihat hal itu, dan sepengetahuan saya, masyarakat didaerah itu cukup sadis untuk melakukan penghakiman massa apabila mendapati terjadinya hal-hal yang menurut mereka tabu.” terang Nurm.

Masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan lain versi Nurm yang memang mengisyaratkan rekayasa Hukum dalam kasus tersebut seperti, bahasa EU yang mengatakan tidak mengenal pelaku pemerkosanya sebelumnya, namun kenyataannya ketika Nurm melintas dari rumahnya ternyata EU dapat mengenali Nurm bahkan mengejarnya sambil menangis sampai kerumah Nurm, foto-foto Nurm yang bertambah di Pengadilan sementara di Mapolres hanya difoto sekali dan itupun hanya ada bekas garukan akibat gatal (bukan cakaran seperti yang disebutkan oleh pihak EU/Pen), rekayasa masalah keberangkatan Nurm dari rumah yang disebut pukul 08.00 WIB sementara Nurm dalam kesehariannya berangkat kerja dari rumah adalah sekitar pukul 10.00 WIB, serta beberapa hal lain.

“Malahan saksi utama yang disebut mereka mengetahui masalah ini yaitu Ibu Nurlela akhirnya telah mengaku bahwa dia dipaksa Polisi untuk membuat keterangan dalam BAP yang isinya memberatkan saya, namun hal itu tidak diakui oleh persidangan.” keluh Nurm.

Ketika Buser melakukan penelusuran ke beberapa sumber menyatakan, bahwa memang untuk daerah Tanjung Balai kerap didapati masalah kerancuan Hukum yang diterapkan oleh aparat penegak Hukum.

“Kita sudah nggak heran lagi dengan masalah yang menimpa saudara Nurmanto itu bung. Malah ada beberapa masalah yang saat ini kami ketahui sedang dalam proses Hukum terkesan sarat rekayasa, seperti masalah Ibu Ayu yang disangka sebagai pelaku Trafficking, Bapak Diki Romarza yang disangka sebagai pengedar Narkoba, dan lain-lain yang kesemuanya sarat nuansa permainan. Untuk masalah-masalah tersebut nanti kami pastikan akan kami buka ke publik.” sebut salah seorang aktifis LSM yang meminta untuk sementara waktu namanya dirahasiakan dengan alasan keamanan diri dan keluarga.

Sementara itu, ditempat terpisah, ketika hal itu ditanyakan kepada LSM PENJARA yang memiliki kantor DPC di wilayah Tanjung Balai, menurut Humas DPP LSM PENJARA, Kosim, AMK, masalah itu memang telah sampai ke DPP LSM PENJARA dan sedang dalam tahap kajian DPP.

“Kami masih mempelajari apakah masalah yang menimpa saudara Nurmanto ini layak untuk kami bawa dan laporkan ke Mabes Polri dan Kejagung atau ada cara lain yang lebih pantas untuk menyikapinya. Karena masalah ini menurut kami memang merupakan preseden bagi dunia Hukum kita khususnya di wilayah Hukum Sumatera Utara.” ujar Kosim kepada Buser. “Kami juga sudah mengirimkan surat klarifikasi guna memastikan kebenaran masalah tersebut.” imbuhnya.

Lebih lanjut Kosim mengatakan bahwa masalah ini tidak boleh dianggap sepele meski hanya melibatkan rakyat kecil.

“Kita tentunya tidak boleh hanya berpijak pada siapa-siapa pihak yang bermasalah, tapi hendaknya kita lebih bijak untuk melihat bentuk serta arah masalahnya. Ini tentang penegakan supremasi Hukum yang kebetulan wilayahnya jauh dari hiruk pikuk Ibukota sehingga kuat dugaan oknum-oknum berkompeten berbuat sesuka hati dalam melaksanakan aturan. Hal ini tidak bisa dibuat main-main.” terang Kosim.

Ketika Buser menanyakan bagaimana keinginan dan harapan Nurm terkait masalah yang menimpanya, Nurm berharap masalah ini dapat dibuka dengan jelas dan diselidiki secara pasti siapa sebenarnya pelaku pemerkosaan itu dan apakah benar EU telah diperkosa.

“Jika benar terbukti saya melakukan pemerkosaan terhadap Eka Uli melalui data dan fakta yang tidak direkayasa, maka saya menyatakan siap untuk menerima azab yang akan ditimpakan pada saya dengan tidak akan mempersalahkan siapapun dalam masalah ini, namun jika ternyata didalam hal ini ada rekayasa, maka saya juga berharap agar aparat Hukum dapat sesegera mungkin membuka masalah ini dan menangkap pelaku rekayasanya secepat mungkin.” tegas Nurm. “Sekali lagi saya katakan bahwa saya siap bersumpah bukan sayalah pelaku pemerkosaan itu. Jika ini adalah rekayasa dari Eka Uli atau pihak keluarganya, dimana saya mendapat informasi bahwa Eka Uli sering dimanfaatkan menunjuk sembarang orang yang disebut sebagai pemerkosa, maka saya juga meminta agar mata Hukum dapat pula diarahkan pada Eka Uli maupun keluarganya.” harap Nurm.

Sampai dengan berita ini diturunkan, Buser Trans Online masih tetap memantau perkembangan masalah tersebut, dimana Nurm masih ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Balai. red/Buser Trans Online

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s