MENYINGKAP GETAR MISTIS-EROTIS CANDI SUKUH

Posted on

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

SUKOHARJO, Buser Trans Online

— Namanya Candi Sukuh. Terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Bangunan tua yang dibangun menjelang keruntuhan Kerajaan Hindu Majapahit, atau sekitar abad ke-15 ini merupakan bangunan suci para pelarian Majapahit akibat serangan dari Kerajaan Demak Bintoro. Akibat serangan itu, banyak masyarakat yang lari dan menyingkir ke pinggiran. Dalam pelarian itulah, beberapa masyarakat tetap ingin mengembangkan kepercayaannya sebagai penganut Hindu.

Menurut catatan sejarah, candi ini dibangun bukan atas petinggi negeri, melainkan hanya merupakan candi desa yang dibangun oleh masyarakat pinggiran. Sementara versi lain mengatakan, candi ini dibangun atas prakarsa Prabu Brawijaya sesaat sebelum moksa di puncak Gunung Lawu, dengan dibantu dua cantrik setianya Sabdo Palon dan Noyo Genggong sebagai pelaksana lapangan.

Candi berbentuk seperti piramida terpancung yang mengingatkan pada bentuk candi suku Maya di Meksiko ini memiliki konstruksi dan relief cukup sederhana. Setidaknya ini terlihat dari relief patung lingga yoni (kelamin pria dan rahim wanita) yang terkesan vulgar.

Berdasarkan ajaran Hindu kuno, penyatuan lingga yoni adalah simbol harapan tentang kesuburan dan keseimbangan–melambangkan pula Dewa Siwa dan istrinya, Dewi Parwati. Kesuburan tanah sebagai pemberi kehidupan, serta terwujudnya keseimbangan jagat batin dan lahir atau keseimbangan rohani dan jasmani.

Meski dengan konsep punden berundak, candi ini kaya akan bentuk yang sangat variatif dan datang dari berbagai unsur budaya. Memiliki tiga punden berundak (terdiri atas tiga teras). Teras diawali dengan bangunan gapura yang bernama Paduraksa, mirip dengan pylon, sejenis gapura masuk ke Piramida di Mesir. Pada ambang pintu gapura ini, dihias dengan bentuk kala berjanggut panjang, sebuah relief yang tidak ditemui di candi-candi Hindu.

Pada sisi kanan dan kiri gapura terdapat relief yang menggambarkan seorang yang tengah berlari dengan menggigit ekor ular naga yang sedang melingkar. Sementara di atasnya terdapat relief yang menggambarkan makhluk mirip manusia yang sedang melayang dan relief seekor binatang melata. Relief ini merupakan sengkalan (simbol tahun pembuatan) yang berbunyi gapura buto aban wong yang ditafsirkan sebagai angka Tahun Saka 1359 C atau 1437 Masehi.

Yang paling unik adalah motif yang berada di lantai gapura, terdapat paduan lingga-yoni dalam bentuk nyata. Gambaran vagina dan penis ini diduga sebagai lambang kesuburan. “Khusus relief yang di lantai gapura itu kami tutup karena takut aus terinjak-injak pengunjung candi,” kata arkeolog UGM, Lambang Babar Purnomo, .

Pada teras kedua terdapat gapura yang tidak utuh lagi. Gapura ini, berdasarkan prarekonstruksi, diduga berbentuk gapura bentar, seperti pintu gerbang masuk candi-candi di Jawa Timur umumnya.

Di depan gapura terdapat sebuah arca Dwarapala yang saat ini sudah dalam keadaan aus. Arca ini lain dengan dwarapala pada arca candi-candi pada umumnya karena nyaris tanpa aksesori, tubuhnya polos, termasuk gada yang dibawanya tanpa ukiran.

Menurut keyakinan penduduk setempaat, teras ketiga adalah kompleks candi induk dan merupakan kawasan “paling suci”. Bangunan candi induk sendiri terletak di barisan paling belakang, menghadap ke barat, berbentuk piramida Mesir yang terpancung bagian atasnya. Untuk memasuki teras ketiga ini juga melewati sebuah gapura yang sudah tak utuh lagi.

Di kompleks ini ada arca binatang berupa kura-kura, garudan, dan gajah, arca tokoh raksasa yang tak dikenal, dan Dwarapala. Pada salah satu arca garuda terdapat prasasti berangka tahun 1363 Caka atau 1441 Masehi, dan 1364 Caka atau 1442 Masehi. Sementara di sisi kanan-kiri di depan candi induk terdapat relief yang menggambarkan cerita Sudhamala dan Garudeya yang mengisahkan tentang upacara suci ruwatan.

Nafas Erotis

Satu-satunya keelokan yang dimiliki candi ini adalah konstruksi arca dan pahatan relief yang sarat akan perwujudan kelamin lelaki dan perempuan secara gamblang, telanjang dan naturalis. Nafas erotis ini, malah tergurat amat mencolok pada lantai gapura, di mana relief alat kelamin lelaki (lingga) dan perempuan (yoni) bertengger secara menggelitik. Mungkin unsur estetis inilah yang memicu timbulnya julukan “The Most Exotic Temple in The World” bagi Candi Sukuh

 Tentu saja, julukan itu bukan tanpa alasan. Menurut arkeolog Th Pudjo Widiyanto, semuanya berpangkal pada falsafah kehidupan masyarakat jaman baehuka. Dikatakan, sejatinya kehidupan manusia tak bisa dilepaskan dari kekuatan roh-roh halus yang bergentayangan.

Nah, untuk mencegah masuknya roh-roh jahat ke dalam rumah, maka masyarakat membuat arca, relief, atau hiasan yang wujudnya menyerupai anggota tubuh manusia yang paling berharga, yaitu alat kelamin dan kepala (kala). Kemudian arca, relief, atau hiasan itu diletakkan di pekarangan rumah sebagai penangkal roh jahat.

Demikian pula halnya arca, relief, atau hiasan yang bertebaran di setiap sudut Candi Sukuh. Di halaman pembuka, misalnya, terdapat pintu gerbang beratap yang berhiaskan kepala raksasa dan memunyai 11 buah anak tangga. Lorong masuk panjangnya 2,10 m, lebar 1 m, dan tingginya mencapai 2,35 m. Dari pintu gerbang ini pula lantas gampang ditemukan sejumlah relief yang sarat dengan erotisme.

Di halaman pembuka, misalnya, terdapat pintu gerbang beratap yang berhiaskan kepala raksasa dan memunyai 11 buah anak tangga. Lorong masuk panjangnya 2,10 m, lebar 1 m, dan tingginya mencapai 2,35 m. Dari pintu gerbang ini pula lantas gampang ditemukan sejumlah relief yang sarat dengan erotisme.

Pada lantai gerbang masuk paling bawah, misalnya terpampang relief yang mengggambarkan sebuah lingga (penis) dalam keadaan ereksi penuh yang detailnya demikian realistis, menghadap sebuah yoni (vagina) yang juga digambarkan dalam keadaan mengembang penuh.

Sepertinya lingga dan yoni tersebut siap bercoitus. Erotisme juga diungkapkan melalui patung-patung tiga dimensi. Salah satu patung berbentuk pria telanjang tengah menggenggam penisnya yang sedang ereksi, nampaknya sedang melakukan masturbasi.

Nuansa erotisme juga digambarkan dalam yang menceritakan kisah Pandawa dalam pewayangan. Bima, salah satu Pandawa yang paling perkasa, digambarkan berdiri dengan penis ereksi tetapi tertutup kain yang dipakainya. Juga terlihat seekor gajah dengan alat kelamin berbentuk penis manusia diantara dua kaki belakangnya dalam ukuran yang tidak proporsional.

Yang menarik adalah relief yang mengisahkan tentang perselingkuhan Dewi Uma, permaisuri Dewa Siwa, yang terlukis dalam relief. Akibat perbuatan nistanya, sang dewi terusir dari Khayangan dan dikutuk menjadi raksasa buruk rupa bernama Dewi Durga.

Namun berkat bantuan Sadewa, anggota Pandawa termuda, kutukan itu bisa dicabut. Akhirnya setelah diruwat (upacara pembersihan diri), Dewi Durga kembali berubah wujud sebagai Dewi Uma yang cantik. Demikianlah. Karena bentuknya yang unik, ditambah relief dan patung yang erotis, hingga kini Candi Sukuh masih meninggalkan sebuah misteri yang belum terjawab mengenai fungsinya.

Iklan

One thought on “MENYINGKAP GETAR MISTIS-EROTIS CANDI SUKUH

    MENYINGKAP GETAR MISTIS-EROTIS CANDI SUKUH « NUSWANTORO said:
    14 Januari 2014 pukul 6:56 PM

    […] MENYINGKAP GETAR MISTIS-EROTIS CANDI SUKUH. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s