Rahma Hidup Tanpa Anus

Posted on

Kab. Sumedang, Buser Trans Online
Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin pribahasa seperti itu yang pantas dikenakan terhadap keluarga pasangan suami istri, Yayan Taryana (50) dan Tati Sumiati (45). Pasangan ini dikaruniai tujuh orang anak yang menjadi beban hidupnya. Namun dari tujuh anaknya itu, si bungsu, Rahma Nur Aisah (1,4 tahun) sejak dilahirkan ke muka bumi tidak memiliki anus atau lubang buang air bersar.
Akibatnya, setiap balita ini mau buang air besar sempat terdengar suara tangisan dan meronta-ronta kesakitan. Pasalnya, balita ini ketika akan mengeluarkan air besar harus melalui kelaminnya. Keluarga malang tersebut kini tinggal di Kp. Jeruk RT 09/RW 19 Desa Cipacing, Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang.
Berdasarkan informasi dari beberapa warga yang sempat menengok ke rumah Rahma tersebut, korban sempat dibawa oleh salah seorang dermawan asal Bandung ke salah satu rumah sakit ternama di Kota Bandung, Senin (23/1) lalu. Namun siapa namanya belum diketahui pasti. Tetapi yang jelas, seorang pengusaha jual beli mobil itu adalah yang mengaku peduli dan perhatian melihat kondisi Rahma yang perlu mendapatkan penanganan medis. Pasalnya, Rahma lahir dalam kondisi kesehatan yang tidak normal. Namun bagaimana kabar terakhir kondisi Rahma, Minggu (29/1) kemarin setelah menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit, belum diketahui pasti.
Anggi Resmana (22), kaka kandung Rahma kepada wartawan di rumahnya, belum lama ini, mengatakan, akibat sakit yang diderita Rahma, berat tubuh adiknya itu tampak kurang normal. Badannya terlihat kecil. “Usianya yang saat ini sudah menginjak lebih dari satu tahun, berat badan Rahma itu hanya sekitar 5 kg,” katanya.
Anggi juga mengaku prihatin ketika melihat nasib adik kandungnya yang kurang beruntung, seperti anak-anak lain seusianya. Ia pun mengaku sedih ketika melihat adiknya kerap menangis ketika akan buang air besar. “Saat mau buang air besar, adik saya suka terus menangis. Tapi saya dan keluarga tidak bisa berbuat apa-apa,” akunya.
Keluarganya pun mengaku tidak mampu mengobati korban, sebelum ada seorang dermawan yang membawanya ke rumah sakit. Pasalnya, korban berasal dari keluarga miskin secara ekonomi. Kondisi rumahnya pun dinilai tidak layak huni. Selain berlantaikan tanah, juga rumah yang berukuran 5 x 7 meter itu sudah terlihat sangat kumuh.
Ketidakmampuan keluarganya untuk mengobati anggota keluarganya itu, kata Anggi, mengingat ayahnya itu berprofesi sebagai penjual kerajinan khas Cipacing-Jatinangor dengan cara berkeliling ke sejumlah daerah. Pendapatannya pun tidak menentu. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya itu, dari hasil berdagang bisa dikatakan tidak cukup. Terlebih lagi kondisi adik-adik Anggi yang mencapai enam  orang itu, masih terlihat kecil-kecil dan membutuhkan perhatian orang tua. Diperparah lagi dengan memiliki adik bungsunya itu yang memiliki kelainan atau dilahirkan tidak normal. Untuk mengobatinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Namun beruntung, penderitaan yang dialami Rahma itu tidak berlangsung lama. Pasalnya, ada salah seorang pengusaha dari Bandung yang mencoba membawa korban ke rumah sakit. Menurut Anggi, adik kandungnya itu pada Senin pekan lalu ada yang membawa ke rumah sakit untuk berobat.
Sebelumnya, dikatakan Anggi, untuk mengobati adiknya itu hanya bisa pergi berobat ke Puskesmas Jatinangor. Proses pengobatannya pun mengandalkan pelayanan Jamkesmas. Pasalnya, pihak keluarga tidak mampu berobat ke rumah sakit. Mengingat untuk kebutuhan makan sehari-hari saja sudah susah. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, keluarga ini dibantu jatah beras miskin dari pemerintah.
Purwanto (42) seorang warga yang sempat melihat kondisi Rahma, mengaku, prihatin ketika melihat kondisi korban seperti itu. Menurutnya, sebelum ada yang membawa ke rumah sakit oleh pengusaha jual beli mobil itu, korban kurang mendapat perhatian dari pemerintah terkait. “Kondisinya sangat memprihatinkan. Mereka berasal dari keluarga miskin. Rumahnya pun berlantai tanah dan tak layak huni,” katanya.
Padahal, kata dia, rumah Rahma itu berada di antara warga yang ekonominya cukup bagus. Rumahnya pun terlihat terpisah dari rumah-rumah lainnya. “Rumahnya itu kelihatan nyengceling dan terpisah dari warga lainnya. Tapi, anehnya sebelum ada yang membawa ke rumah sakit, Rahma itu kurang mendapatkan perhatian dari pihak-pihak tertentu. Namun beruntung ada pengusaha yang datang ke rumahnya. Sehingga pada Senin pekan lalu, Rahma ada yang membawa berobat ke rumah sakit,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s