SEJARAH PERJUANGAN SYEKH HAJI ABDUL MUHYI

Posted on

Oleh : Acep Aan

Sumber : Kuncen, Oman Abdurahman (Tokoh Pemijahan) dan R. Abdulah Apap bin R. H. Abdullah Miftah

Pada Bulan Rabiul awwal sekitar tahun 1109 H /1688 M ,datanglah Cendikiawan dari daerah Kuningan Cirebon. Mengenai perkiraan tahunnya datangnya yaitu dihubungkan dengan berdirinya mataram dan Sunan Gunungjati Cirebon. Sehubungan dengan Mataram karena ada surat dari mataram ke pamijahan mengenai pengistimewaan daerah / daerah pasidkah (surat di Pak kuncen). Sedangkan tersiarnya Agama Islam di mataram pada tahun 1525 M. hubungan dengan Cirebon (Faletehan/SG. Jati) karena waktu dating di darma Kuningan sudah banyak penganut agama Islam,sedangkan penyebar Agama Islam disana adalah Faletehan sejak tahun 1527 M , dan selanjutnya termashurlah beliau sebagai Sunan Gunung jati sejak tahun 1552 M. Silsilahnya sebagau berikut :

Dari Ayah :

Ratu Galuh,Ratu puhun, Kuda Lanjar, Mudik Cikawung Ading, Entol Penengah, Sembah lebe wartakusumah, Syekh Haji Abdul Muhyi.

Dari Ibu :

Baginda Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Siti Fatimah, Sayyidina Husain, Sayyidina Zainal Abidin, Sayyidina Ja’far SIdik, Sayyidina Kasim Al Kamil, Sayyidina Syekh Isa Al Basri.Sayyidina Syekh Abdul Abu Haji, Sayyidina Syekh Ubaidilah, Sayyidina Syekh Muhammad, Sayyidina Syekh Almy, Sayyidina Syekh Ali Al Gayam, Sayyidina Syekh Muhammad, Sultan Abdul Fatah Raja India, Sultan Abdul ahmad Duddin, Syekh Amir Ahmad Jalaludin, syekh Jamaludin Al husein, Syekh Maulana Ibrahim Zainal Akbar, Syejh Ali Maulana Ali Murtadhu, Syekh Maulana Ishak, Syekh Sunan Ciri Raden Paku, Syekh Pangeran Laya Atam Sunan Giri Laya, Syekh Adi Pati Wiracandra, Kentol Sambirana, Ny. Rd. Ajeng Tanganijah, Syekh Haji Abdul Muhyi Waliyullah. Beliau dilahirkan di Mataram dan dibesarkan di Gresik. Pendidikannya : semasa kcilnya menurut ilmu Agama Islam di Gresik dan Ampel, selanjutnya kira-kira usia 19 tahun beliau pindah ke kuala daerah Aceh selama delapan tahun (dari tahun 1088-1096 H/ 1667-1675 M). Gurunya di Kuala bernama Syekh Abdul Ra’uf bin Abdul Jabar bin Abdul Qodir Bagdad.Pergi ke Bagdad Naik Haji. Pada usia 27 tahun beliau dan teman-temannya di bawa ke Bagdad oleh gurunya (Syekh Abdul Ra’uf). Di sana pernah berziarah ke makamnya Syekh H. Abdul Qodir dan terus menuntut ilmu Agama Islam pula, kemudian langsung dibawa ke Makkah Mukarromah untuk menunaikan ibadah Haji. Ketika itu semuanya (rombongan beliau) berada di Baitullah tiba-tiba Syekh Abdul Ra’uf endapat Ilham baghwa diantara santri nya itu akan mendapat kelebihan (yang menunjukan tanda kewalian). Isi Ilham tersebut menyatakan bahwa manakala tanda itu telah tampak padanya maka Syekh Abdul Ra’uf harus segera menyuruh orang itu pulang dan harus mencari GOA yang ada dipulau Jawa bagian Barat untuk menetap / bermukim disana. Goa itu sebenarnya bekas Syekh H. Abdul Qodir Jaelani sewaktu menerima ijazah ilmu Agama Islam dari gurunya yaitu Imam Sanusi. Pada suatu saat sekitar waktu ashar Syekh Abdul Muhyi dengan teman-temannya sedang berkumpul di Masjidil Haraan tiba-tiba datanglah cahaya langsung menuju wajah Syekh Abdul Muhyi dan hal itu diketahui oleh Gurunya (syekh Abdul Ra’uf). Ketika melihat kejadian iti Syekh Abdul Ra’uf terkejut dan ia ingat akan ilham yang pernah diterimanya. Setelah dipikir-pikir olehnya ia yakin bahwa hal itu ialah tanda kwalian yang sedang ditunggu-tunggunya berdasarkan ilham yang diterimanya. Namun hal ini dirahasiakan meski kepada santrinya sekalipun.Pulang dari makkah mukarramah. Sekalipun ada kejadian terhadap diri Syekh Abdul Muhyi itu maka Syekh Abdul Ra’uf dengan tak ragu-ragu lagi, segera membawa mereka pulang ke kuala,dan setibanya di Kuala segera memanggil Syekh Abdul Muhyi lalu disuruhnya pulang ke gresik selanjutnya harus mencari Goa yang telah dibicarakan diatas serta merta apabila telah diketemukannya harus menetap disana. Setelah Syekh Abdul Muhyi mendapat perintah dari gurunya itu lalu pulang ke Gresik. Setibanya di Gresik Beliau memberitahukan segala perintah gurunya kepada ayhnya ,bundanya kemudian mohon idzin dan doa restu untuk melaksanakan perintah gurunya itu. Mendengar keterangan itu ayah bundanya bukan main merasa gembiranya karena putranya telah mendapat kepercayaan dari gurunya, tentu saja segala permohonannya dikabulkan. Tidak lama kemudian Syekh H. Abdul Muhyi pergi meninggalkan Gresik menuju kea rah barat hingga sampai ke daerah Darma Kuningan ,Cirebon.Menetap di Darma Kuningan. Pada waktu istirahat di Darma Kuningan beliau disampbut oleh penduduk warga disana dan bercakap-cakap yang kebetulan mereka itu telah menganut Agama Islam. Penduduk disana sangat tertarik oleh prilaku beliau yang ramah itu, lebih-lebih setelah mereka mengetahu bahwa beliau seorang berpengetahuan tinggi terutama ilmu Agama Islam. Maka dari itu mereka menahan beliau agar menetap disana untuk membina , membimbing dan mendidik mereka. Atas permohonan mereka itu beliau mengabulkan dan menetap disana selama tujuh tahun. Berita Syekh Abdul Muhyi menetap disana tercium oleh ayah Bundanya sedangkan tujuan utama beliau itu harus mencari Goa di Pulau Jawa Bagian Barat. Maka dari itu ayah bundanya menyusul dan ikut menetap disana untuk sementara.

Meninggalkan Darma Kuningan. Kurang lebih tujuh tahun lamanya Syekh Abdul Muhyi beserta Ayah Bundanya menetap disana kemudian mohon diri kepada penduduk di sana untuk melanjutkan perjalanan atas perintah gurunya.. dari darma Kuningan beliau pergi bersama Ayah Bundanya menuju daerah selatan hingga samapai di daerah Pameungpeuk ,Garut Selatan disana mereka hanya menetap kurang lebih dua Tahun. Didaerah ituberkenaan pula karena ayahnya (sembah Lebe Wartakusumah) menerima panggilan Allah SWT meninggal dunia dan dimakamkan di Kampung Dukuh di tepi Kali Cikaengan.Menuju Lebaksiuh. Dari pameungpeuk beliau beserta ibundanya pergi menuju lebak siuh. Dikampung batuwangi yaitu diperjalanan ke labak siuh beliau ditahan pula oleh penduduk disana untuk menetap seperti daerah lainnya yang pernah beliau singgahi atau lalui. Dengan beberapa pertimbangan permohonan itu beliau kanulkan pula, selama beliau menetap disana tidak didapat ada keterangan. Dari sana beliau beseta ibundanya terus menuju lebaksiuh dan disana kurang lebih selama Empat tahun. Sewaktu beliau ada di Lebaksiuh pernah mendapat gangguan dari penganut agama lain ,namun tidak menjadi maslah atau kerugian ,bahkan Agama Islam makin tersebar luas. Gangguan yang pernah dialami di Lebak Siuh diantaranya beliau pernah didatangi dua tokoh yang bernama Embah Ibra dan Embah Asmun. Ketika mereka dating kesana menurut keterangan Syekh H. Abdul Muhyi sedang melakukan Solat saat beliau sujud. Keadaan semacam itu dianggap sangat menguntungkan bagi para EMbah karena yang dianggap musuhnya itu kebetulan sedang membelakanginya. Pada saat itu juga diantara EMbah itu akan menghantam dari belakang. (entah mau memukul atau mau menendang) tidak dapat keterangan,pokooknya akan menghantam dari belakang. Namun karena keramatnya embah itu tidak berhasil maksudnya karena tangan dan kakinya terangkat tidak dapat bergerak lagi. Setelah beliau selesai Sholat waktu melihat kebelakang ,beliau kaget melihat orang berdiri dibelakangnya dengan anggota badannya terangkat (tangan dan kakinya) lalu bertanya : kenapa anggota badan saudara terangkat begitu ?. si embah menjawab denga terus terang apa yang akan diperbuatnya tadi dan kemudian memohon ampun dan memohon supaya disembuhkan kembali. Mendengar keterangan dan permohonan ampunan si embah itu ,lalu Syekh H. Abdul Muhyi memohon kepada Tuhan Yang Maha Pengampun supaya si Embah itu dapat diampuni dan disembuhkan kembali. Karena keramatnya itu doanya dikabulkan. Setelah si EMbah sembuh kembali bukan berterimakasih akan tetapi melahirkan rasa takabur dan seketika itu pula salah seorang diantara si Embah itu akan membunuhnya dengan golok panjang yang meraka bawa. Tanpa dipikirkan lagi lalu si EMbah encabut Goloknya itu. Namun apa yang terjadi? Tak henti-hentinya goloknya terus menerus menjadi panjang sehingga ukuran kekuatan panjang tangannya sudah habis namun golok tak kunjung keluar dan tak dapat dimasuka lagi juga tangannya terus melekat pada hulu golok itu. Dengan kejadian yang kedua kalinya itu maka Syekh H. Abdul Muhyi bertanya lagi kepada mereka berdua “apakah kalian mau terus menerus menuruti nafsu angkara murka atau mau mengikuti petunjuk-ptunjukku ?. kaena si Embah sudah kepepet atau tak sanggup melayani kekuatan beliau maka dengan rasa yang benar-bena disadari dan siisyafi mereka menyerah dan akan mengikuti segala petunjuk beliau bahkan sekaligus akan menyerah bersama kejadian semasa beliau menetap di lebaksiuh. Untuk lebih tenang dan tentram melaksanakan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa beliau terus menerus mencari tepat yang dipandang akan lebih tenang dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT semoga Goa yang sedang dicarinya segera ditemukan. Tak lama kemudian sampailah ke sebuah lembah dan disana menemukan sebuah goa yang tanda-tandanya sesuai dengan petunjuk gurunya. Lembah itu dberi nama “ MUJARRAD” yang artinya tempat penenangan ( tempat nyirnakeun manah , dalam bahasa sunda). Tidak jauh dari sana disebelah timur di bangun sebuah kampong diberi nama “SAFARWADI” artinya berjalan diatas jurang . Kampung itu sekarang disebut “PAMIJAHAN”.Kenapa kampong itu disebut Pamijahan ? . sebab kampong itu sering didatangi orang-orang untuk berziarah ke makamnya Syekh H. Abdul Muhyi Waliyullah. .karena banyaknya yang berkunjung dan waktunya tidak sama, maka keadaan orang disitu hilir mudik seperti ikan akan bertelur (Mijah dalam Bahasa sunda ). Jadi arti Pamijahan itu benar-banar mempunyai arti tempat ikan bertelur, bukan berarti pemujaan. Dengan tegas saya menolak apabila diantara para pendatang yang megartikan kata pamijahan dengan arti Pemujaan. Karena itu dengan mohon dengan hormat kepada para pendatang yang berkunjung ke Pamijahan berdarkan Tuntunan agama Islam. Perlu diketahui keluar biasaan Syekh H. Abdul Muhyi,dari manusia biasa ,yaitu sebagai berikut :

• Kejadian di Lebak siuh emnghadapi Embah Ibra

• Dating di Pamijahan sekitar usia 40 tahun

• Memimpin di Pmijahan sekitar 40 tahun

• Dating di Pamijahan pada Bulan Rabiul Awwal

• Wafatnya pada Bulan Rabiul Awwal

Hal ini dianggap luar biasa dari manusia biasa. Dilahirkan sekitar tahun 1069 / 1648 M. datang diPamijahan sekitar tahun 1149/1728 M. tidak dapat keterangan tahun berapa ibunya wafat hanya diketahui bahwa Ibunya pun dimakamkan disebelah selatan Kampung Pamijahan kurang lebih 200 M dari kampong itu sedangkan Syekh H. Abdul Muhyi dimakamkan di sebelah Barat Laut Kampung Pamijahan di tepi kali Cipamijahan. CARA PENGEMBANGAN AGAMA ISLAM, Beliau itu termasuk seniman, maka cara pengembangan Ilmu Agama Islam dengan seni, diantaranya :

1. Mengajar membaca Al-Quran dengan seni bacanya

2. Mengajar doa-doa lain dengna istilah mantara atau jampi.

Caranya : diwaktu senggang beliau biasa membaca Al-Quran tentu saja dengan seni bacanya. Karena seni bacanya yang indah tentu saja penduduk disekitar situ tertarik sehingga banyak yang berdatangan ingin belajar membaca Al-Quran. Untuk memenuhi permintaan para pendatang itu beliau tidak langsung member pelajaran membaca Al-Quran ,melainkan :

1. Hanya belajar lagunya dengan cara bersenandung

2. Kemudian diberi cara / syarat mengenai memegang ,membawa dan membaca Al-Quran

Cara atau syarat yang dimaksud itu ialah mengenai pembacaan “DUA KALIMAT SYAHADAT” kemudian cara-cara berwudhu dan lain sebagainya ,dengan meksud untuk membawa mereka masuk Agama Islam. Dengan cara mantra : bagi para petani beliau memberi doa untuk bercocok tanam agar dapat mendapatkan hasil yang lebih banyak. Bagi para seniman beliau memberi doa untuk kekuatan badan karena pada masa itu bila ada pementasan kesenian dilanjutkan dengan adu kekuatan dan pada masa itu baru ada grup rebana. Tingkat demi tingkat terus beliau ajarkan seperti mengenai keuntungan atau keutamaan membaca Al-Quran dapat menimbulkan ketenangan,kesucian dan rasa karena Allah. Lebih-lebih membaca Al-Quran diwaktu solat keuntungannya itu berlipat. Tak heran lagi kalau para penduduk di sana serempak minta segera diajarkan cara-cara sholat karena ingin mendapatkan keuntungan yang berlipat dari hasil membaca Al-Quran diwaktu Shalat. Begitulah cara penyampaiannya pada masa itu menurut keterangan yang diperoleh. Putera-puteranya , menurut silsilah yang diterimaputera-puterinya ada 18 orang dari empat orang istri ialah dari : sembah Ayu Bahta : Syekh Abdulah , Dalem Bajong, Syekh Faqih Ibrahim, Ny. Madya kusumah diperistri oleh Syekh najmudin lengkong kuningan. Sembah Ayu Fatimah : Syekh kiai Nadzar ,Syekh alam, Ny. R. Usim, Ny. R. Arunah, Ny. R. Hatisah. Sembah Ayu Selamah ( R. Ajeng Halimah) binti R. Tumenggung Anggadipa Wiradadaha ke III Bupati Sukapura ( Dalem Sawidak) : Kiai Bagus Muhammad, Ny. R. Siti, Ny. R. Ajeng diperisteri oleh R. H. Ajeng Wajah (Syekh H. Abdul Wajah) makamnya di gunung Sari Banaraga ciamis. Sembah Ayu Winangun : Ny. R. Candra, Ny. R. Ajeng Enur, N. R. Jabaniah, N. R. Ajeng Nidor, R. Bagus Atim, R. Ali Akbar. Urutan penembahan Pamijahan yang didapat keterangannya : Sembah Imam Waji bin Siti Madya Kusumah binti Syekh H. Abdul Muhyi , Eyang H. Adam, Eyang H. Na’iim, Eyang H. Amsar, R.H. Abdul Rahman bin R. Yudamanggala (Camat Karang) bin R. Wirayudha (wadana Karang) sekitar tahun 1800 M, R.H. Abdul Mu;min bin R. H. Abdul Rahman, Eyang H. Lamri, R. B. Abdulah, R.H. Abdulah Shaleh bin R. H. Abdulah, R.H. Muhammad Shaleh, H. Muhammad qosim, m. Syukruddin. Sejak penembahan H. Muhammad Qosim sebutan penembahan jadi kuncen. Mengenai identitas penembahan-penembahan di atas yang diperoleh keterangan hanya seorang yaitu : R. H. Abdul Rahman (penembahan yang kelima) yaitu : sebagai berikut : Abdul Rahman ,tempat tanggal lahir LEBaksiuh 1257 H/1836 M, tempat /tgl. Wafat Pamijahan 19 -04 – 1341 H. 1920 M . diangkat menjadi khalifah/ wakil Imam penembahan Pamijahan berdasarkan Surat Pengangkatan Bupati Sukapura tertanggal : 26 Sya’ban 1304 H/1884 M. regent Van Soekapoera Cap ttd R. Tumenggung Wiraadiningrat. Jadi beliau menjadi penembahan selama 37 tahun sejak tahun 1304 sampai 1341 H. dibawah peimpinan beliaulah yang pertama membuat benteng makam Syekh Abdul Muhyi yang mulai pada : hari/tanggal Kamis, 09-04-1314 H –selesai. Hari / tanggal selasa, 12-06-1414 H. namun diketemukan tulisan peringatan pada papan diatas pintu makam , tertulis angka : 14-07-1314 H. selanjutnya mengenai pemeliharaan, perbaikan dan perombakan bentuk dan model oleh para penembahan berikutnya lebih-lebih dimasa pimpinan Bapak Kuncen H. Muhammad Qosim banyak perubahan, pembaharuan sesuai dengan Tuntunan Zaman. Hubungan Syekh H.Abdul Muhyi dengan makam-makam yang ada diPamijahan. Seperti dengan makam Bengkok , yang dimaksud dengan makam bengkok itu adalah Sembah Dalem Sacaparana yaitu mertuanya. Makom kidul ,R. yudanagara adalah kakak iparnya ,karena R. Ajeng Halimah / Ayu Salamah itu saudara R. Yudanagara I. Ringkasan silsilahnya adalah sebagai berikut : R. Adipati Wiradadaha ke I ,Bupati Sukapura tahun 1632 M berputra : R. Jaya Manggala WIradadaha ke II Bupati Sukapura Pasirhuni, R. TUmenggung Anggadipa Wiradadaha ke III Bupati Sukapura (Dalem Sawidak), Putera-puterinya antara lain : R. Subamanggala Wiradadaha Bupati Sukapura ke- IV (Dalem Pamijahan). Dalem Pamijahan ini dimakamkan dilingkungan makam Syekh H. Abdul Muhyi(disebelah timur kuburan Syekh H. A.M. ) yang ada tanda payung., R. Yudanagara I Patih Sukapura ,makamnya disebelah selatan kampong Pamijahan dengan sebutan makam kidul berdekatan dengan makamnya R. Ajeng Tangajiah kurang lebih 200 M dari Kampung Pamijahan., R. DAlem Abdul , beliau akhli bertani yang pertama mengadakan tanah keprabon. Ny. R. Ajeng Halimah / Ayu Salamah yang diperistri oleh Syekh H. Abdul Muhyi Waddasallahu Ruuhahuu. Keterangan peta ( Lokasi) : pos hansip /terminal, mesjid Agung Pamijahan di tepi kali Cipamijahan, Rumah Kuncen, Makam R. Ajeng tangnijah, makam R. Yudanagara I (makam Kidul), Kampung Pamijahan ,Makam Syekh H. Abdul Muhyi & Makom Raden Subamanggala Wiradadaha Bupati ke –IV (Dalem Pamijahan), Goa Safarwadi keramat Pamijahan, Kampung Panyalahan,makam Syekh Khotib Muwahhid, Daerah terlarang merokok, Kali CIpamijahan, Makam Bengkok, Kali Cilangka, Jalan Raya Pamijahan. Keterangan Goa Safarwadi : Pintu masuk , Langgar / tempat bertapa , tempat air ZAm-zam, tempat caikahuripan,masjid tempat, jalan ke Mekah, jalan ke Surabaya, jalan ke Cirebon terus ke Gunung Jati , masjid tempat wanita, jabal kupiah, pesantren, dapur , cai Kajayaan , Pintu keluar ,Lubang temuan baru. Tembusan yang masih ada : pohon pisang, pohon kokosan monyet, pohon albasiah,kedongdong hutan, kemiri, rumpun-rumpun bamboo. Binatang yang masih ada : keluarga kera, lutung, surili ,tupai dll. keluarga unggas seperti : tekukur, perkutut, kutilang, glatik, dan burung-burung kecil lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s