Keinginan Bandung Timur Terbentuk Terus Bergulir

Posted on

Buser Trans Online, Bandung

– Warga Kabupaten Bandung wilayah timur tetap menginginkan adanya pemisahan dan berdiri sendiri menjadi Kabupaten Bandung Timur (KBT).

Tuntutan ini terus bergulir, seiring dengan tidak dirasakannya dampak pembangunan yang dirasakan masyarakat seperti yang digadang-gadang oleh Bupati Bandung Dadang M Naser yang berjanji akan memprioritaskan pembangunan ke wilayah timur.

Salah seorang tokoh KBT asal Cicalengka, Nurdin Senjaya mengatakan, janji pembangunan wilayah timur yang digembor-gemborkan oleh Dadang Naser dan jajarannya, sebenarnya tidak pernah terbukti.

Contoh kecilnya, kata dia, Dadang pernah berjanji akan merevitalisasi Pasar Cicalengka pasca-terbakar pada 2011 lalu, tidak pernah terbukti. Bahkan kini di kawasan itu menyisakan kekumuhan dan kesemrawutan.

Tidak hanya itu saja, upaya pembangunan jalan baru pun tidak pernah terjadi. Yang ada, kata dia, hanya tambal sulam jalan lama.

“Lalu janji beliau sebagai bupati yang akan memproritaskan pembangunan ke wilyah timur itu mana? Selama pemerintahan beliau ini sama sekali tidak ada pembangunan baru, baik gedung ataupun infrastruktur jalan, yang ada cuma tambal sulam,” kata Nurdin Senjaya kepada INILAH.COM, Minggu (31/8/2014).

Nurdin kembali mencontohkan di Kecamatan Nagreg, yang menjadi etalase atau gerbang memasuki Kabupaten Bandung. Di sana, tidak pernah ada pembangunan yang signifikan.

Artinya, kata dia, janji untuk memprioritaskan wilayah timur itu sama sekali tidak terbukti.

Dikatakan Nurdin, keinginan masyarakat di wilayah timur Kabupaten Bandung untuk memisahkan diri bukan tanpa alasan. Bukan pula hanya sekadar tak adanya pembangunan di wilayah tersebut. Melainkan juga masalah pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Contohnya, untuk urusan kecil seperti pembuatan KTP saja, masyarakat harus datang ke ibu kota kabupaten di Soreang. Padahal, jarak tempuhnya saja memakan waktu hingga dua jam. Belum lagi urusan lainnya, seperti permohonan perizinan, akses perekonomian, dan lainnya.

“Kami ini justru lebih dekat ke Kota Bandung dan ke Garut, hanya butuh waktu sekitar 15 menit saja. Padahal semua urusan masyarakat sama pemerintahnya, harus diselesaikan ke Soreang,” ujarnya.

Seiring terbentuknya anggota DPRD Kabupaten yang baru, dia mengaku tidak terlalu antusias. Bahkan dia mengaku pesimistis, para wakil rakyat ini bakal turut memperjuangkan aspirasi masyarakat Bandung Timur.

Apalagi, beberapa anggota DPRD asal Bandung Timur saat ini pun lebih banyak muka lama. Yang notabene lebih memiliki kepentingan politik ketimbang turut memperjuangkan aspirasi masyarakat Bandung Timur.

“Meski di DPRD sekarang ada beberapa orang yang menjadi pengusung KBT, tapi saya tetap pesimis. Soalnya, lebih banyak dewan wajah lama asal timur, dan mereka selama ini pun tidak memperjuangkan aspirasi warganya,” terangnya.

Hal senada dikatakan oleh salah seorang tokoh masyarakat asal Kecamatan Cileunyi, Apih Jaja Dipraja. Menurutnya Bupati Bandung tak memiliki political will terhadap aspirasi masyarakatnya.

Buktinya, bupati tak mau memasukan anggaran untuk melakukan kajian akademis untuk studi kelayakan rencana pemekaran wilayah ini di APBD.

Padahal, kalau saja bupati ada niat baik, kata dia, setelah adanya kajian akademis, apapun hasilnya pasti akan diterima oleh masyarakat.

“Belum apa-apa dia sudah takut kehilangan PAD dari wilayah timur. Padahal, keinginan kami itu tidak melanggar aturan, malah dibenarkan oleh undang-undang,” ujarnya.

Diakui Jaja, perjuangan masyarakat Bandung Timur yang ingin memisahkan diri dari induknya memang kian hari kian sayup-sayup gaungnya. Namun, kata dia, keinginan masyarakat masih tetap bulat. Mengingat manfaat yang bisa diraih oleh masyarakat sekitar dinilai lebih besar.

“Selama ini memang ada juga kontroversi di masyarakat. Tapi kalau mereka yang mengerti ya memilih pisah. Contohnya Kabupaten Bandung Barat, masyarakatnya sekarang bisa menikmatinya. Paling tidak pelayanan administrasi bisa lebih dekat,” katanya.

Pemekaran wilayah ini sudah menjadi suatu keharusan mengingat luasnya wilayah Kabupaten Bandung. Jaja menilai selama ini wilayah timur Kabupaten Bandung kurang tergarap.

Seperti masalah pencemaran lingkungan, perambahan hutan, infrastruktur jalan yang buruk serta kondisi masyarakat wilayah timur yang hingga kini masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Konsep pemekaran KBT meliputi 15 kecamatan di wilayah timur Kabupaten Bandung mulai dari Cimenyan, Cilengkrang, Cileunyi, Nagreg, Majalaya, Ibun, Ciparay, Kertasari, Bojongsoang dan beberapa kecamatan lainnya.(sumber : inilah.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s