Gedung Pertemuan Rakyat Status Herdom (GDN Cicalengka)

Posted on

 

Gedung Pertemuan Rakyat dibangung pada Tahun 1947 Jl. Raya Cicalengka atau sering disebut Gedung Nasional arsitektur bangunanya dari dulu hingga sekarang tidak berubah.
Gedung Pertemuan Rakyat dibangung pada Tahun 1947 Jl. Raya Cicalengka atau sering disebut Gedung Nasional arsitektur bangunanya dari dulu hingga sekarang tidak berubah.

Kab.Bandung, Buser Trans Online

Gedung pertemuan rakyat atau sering disebut gedung nasional (GDN), pada tahun 1947 dijadikan komando sebagai kota para pejuang saat akan perang GDN sebagai tempat untuk melepas lelah.

Tugu yang ada di depan gedung mempunyai nilai sejarah yang tinggi, menurut cerita saksi sejarah pada saat itu 9 bom yang dijatuhkan oleh tentara Belanda, anehnya, bom tersebut semuanya tidak meledak, dan salah satunya menancap di depan GDN, salah satu titik bom yang tidak meledak, saat itu dibangun tugu pertemuan rakyat, sebagai tanda seperistiwa padasaat itu, tentunya, seandainya meledak akan menghancurkan sebagian Kota Cicalengka.

Seratus mater didepan GDN berdiri bangunan yang kini digunakan SDN VII, tempat ini juga dijadikan tempat istirahat para tentara. Hal tersebut di katakan Samsi Holil (81), Kamis (23/12) merupakan salah satu saksi sejarah gedung pertemuan rakyat (GDN) adalah seorang Purnawirawan TNI AD dengan pangkat terakhir Peltu NRP 165766 yang saat ini menjabat Ketua Primer Kopabri Kecamatan Cicalengka Kab. Bandung.

Ditambahkan dia, Gedung Nasional mulai ada perhatian setelah Usep Ridwan menjabat Kepala Desa Cicalengka Kulon, itupun setahun kebelakang, sebab, sebelumnya ada orang yang mengaku pengelola, namun, tidak ada perhatian kepada gedung itu sendiri.

Diharapkan oleh saksi sejarah bisa ada perhatian pemerintah, namun disinggung masalah status tanah dikatakanya adalah milik Belanda dan tidak lagi bertuan atau disebut Herdom.

Nama gedung pertemuan rakyat siliwangi menjadi berubah nama menjadi Gedung Nasioanal (GDN) padahal dulu bernama sutet yang dibagun tahun 1964 dan yang membangun adalah orang yang punya uang inden (uang bantuan untuk para pengusaha lokal) dan orang yang dapat inden menyumbangkan sebagian hartanya dan sebagai sponsornya adalah Mayor Ahmad Syam DANYON 308.

Saat itu, tentara bergotong-royong lalu sebagian gajihnya dipotong untuk membangun gedung, sedangkan warga menyumbang dalam bentuk mateial serta uang yang tidak ditarip, “dengan melihat gedung pertemuan rakyat sekarang masih bentuk asli seperti dulu dan pernah direhab 10 tahun yang lalu, ini bisa dikatakan gedung bersejarah sebelumnya pernah di gunakan oleh orang Belanda sebelum merdeka sebagai ruang hiburan”jelas Samsi Holil.

Menurut Kades Cicalengka Kulon Usep Ridwan untuk pemeliharaan diantaranya pembuatan kirmir dan pemagaran sedang dicarikan dana oleh pihak desa, gedung pertemuan rakyat jika harus direnopasi dibutuhkan anggaran hingga 500 juta, “setiap harinya gedung digunakan oleh warga oleh sebagai sarana tempat olah raga, sedangkan kebutuhan listrik sendiri setiap bulan mencapai 350 ribu dibayar oleh desa setempat dari hasil iuran para pengguna gedung”ujarnya.

Usep berharap segera adanya penataan oleh pemerintah agar gedung lebih terawat, namun, ada kendala dari status tanah itu sendiri sebab data di desa tidak ada di leter C sehingga tidak bisa mendapatkan bantuan dari pemda.(Kos/Buser Trans Online)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s